Tag Archives: kangen

Satu Pihak

Lelehan air hujan di jendela, seperti sandi morse. Aku bisa membacanya. Berisi pesan rindu yang dia kirim untukku. Bukan yang pertama. Hampir selalu, setiap kali turun hujan. Kalau aku sedang tidak di dekat jendela, dia akan menggunakan cara lain. Misalnya saat aku di jalan, dia bicara rindu lewat butir hujan yang ditabrakkan ke payungku. Irama ketukan-ketukannya menciptakan bahasa tertentu. Aku bisa menerjemahkannya. Atau ketika berteduh, aku bisa memahami isyarat kerinduan yang dia ciptakan lewat helai-helai air yang tergelincir dari atap.

Continue reading →

Advertisements

Debar Pamungkas

tak akan pupus
yang tak kau papas

apakah kau
menunggu getar di langit
untuk mau
mengobati getir pada aku yang langut?

tak akan pupus
yang tak kau papas

gelombang deras rindu akan menjelma debur yang keras
mengantarkan cinta sampai pada satu debar pamungkas

Gerimis Pagi-pagi

Sore, pukul 18:15 aku mulai menulis yang sedang kamu baca tanpa tahu mau menulis apa sebelumnya. Aku mulai menulis cuma karena ingin menulis, bentuk usaha membunuh Si Keparat yang sejak pagi meresahkanku: rasa bosan. Kukira tidak akan ada yang menghukumku. Kamu juga sering berusaha membunuhnya kan? Aku tahu. Mungkin lain kali kita bisa berkomplot, melakukan pembunuhan bersama.

Tetapi baru saja, tepat setelah paragraf pertama selesai kutulis, gerimis membocorkan satu rahasia padaku. Dia berbisik, lembut mengelus gendang telingaku. Bukankah suatu rahasia memang harus disampaikan dengan sembunyi-sembunyi? Dan sekarang akan kubuat informasi ini menjadi bukan rahasia lagi. Kusampaikan padamu secara terbuka: Tuhan tidak pernah menciptakan rasa bosan. “Kau mengada-ada soal rasa bosan.” bisik gerimis, “Kalau rasa kangen, itu masih mungkin diciptakan Tuhan dan ditanamkan padamu.”

***

Continue reading →

Kau dan Rasa Kangenku

rindu ini terus membesar

mengeras dan membatu

menjadi semacam berhala

menyesaki ruang ibadahku…

dan engkau lah ibrahim

perkasa memegang kapak,

kekuatan di tanganmu.

maka tolong hancurkan!

runtuhkan!

tak perlu disisakan…

tapi kenapa engkau hanya diam, o kekasih?

apa kau tak memahami rinduku?

***

kangen ini terus mengalir

deras dan membanjir

menjadi semacam bencana

merusak khusukku…

dan engkau lah nuh

cerdas membangun bahtera,

ilmu pengetahuan di kepalamu.

maka aku mohon selamatkan!

angkat aku, naikkan

aku di bahteramu yang menenangkan…

tapi kenapa engkau memalingkan muka, o kekasih?

apa kau tak peduli terhadap rasa kangenku?

Cirebon, Oktober 2013

Bit-bit Rindu

pesan rindu digital

Kami kira perjuangan cinta bapak-ibu dan kakek-nenek kita dulu, apalagi generasi di atasnya, pasti jauh lebih hebat dibanding kita hari ini. Setidaknya bisa dilihat dari segi kekuatan menahan rindu dan komitmen saling menjaga kepercayaan. Pada zaman itu, mereka yang terpisah jauh dari orang-orang terkasihnya jangan harap bisa dengan mudah saling sapa.

Continue reading →

Tayamum

Ada rinduku di setiap butir debu yang mengotori wajahmu

Lalu kau basuh

Debu kembali

Kau basuh lagi

Tapi debu pasti akan kembali

Kau basuh lagi, kurang-kurangnya berulang lima kali sehari

Mungkin akan datang saat

debu justru menjadi media yang mensucikanmu

Tapi aku tahu

itu terjadi hanya jika kau dalam keadaan tidak normal

Aku tak mau.

Bandung, 30 Maret 2013