Satu Pihak

Lelehan air hujan di jendela, seperti sandi morse. Aku bisa membacanya. Berisi pesan rindu yang dia kirim untukku. Bukan yang pertama. Hampir selalu, setiap kali turun hujan. Kalau aku sedang tidak di dekat jendela, dia akan menggunakan cara lain. Misalnya saat aku di jalan, dia bicara rindu lewat butir hujan yang ditabrakkan ke payungku. Irama ketukan-ketukannya menciptakan bahasa tertentu. Aku bisa menerjemahkannya. Atau ketika berteduh, aku bisa memahami isyarat kerinduan yang dia ciptakan lewat helai-helai air yang tergelincir dari atap.

Continue reading →

Advertisements

Hitam

Apa kau pikir hitam adalah satu dari sekian banyak warna? Bukan. Hitam adalah awal mula semesta, sebuah ketiadaan. Titik sebelum ada apa-apa, sebelum bermunculannya warna-warna, sebelum dimensi ruang-waktu dan suara-suara ada, sebelum bentuk-bentuk benda tercipta. Tuhan masih sebagai Sepi Sejati. Baru kemudian seperti ada retakan pada hitam oleh sebab penciptaan satu berkas cahaya, bahan induk dari semua makhluk ciptaan: Nur Muhammad. Dan hitampun seolah terbelah-belah menjadi kepingan tak berhingga; di antara setiap belahannya terisi oleh aku, olehmu, oleh ide-ide, ilmu pengetahuan, emosi, air-api-udara, bintang-planet, emas-besi, jin-malaikat, surga-neraka, oleh semua yang terjangkau oleh akal dan rasa. Tapi hitam bukan hilang, justru kita & semua berada di dalamnya, di dalam ketiadaan. Mungkin. Hitam.

light

Bandung, 27 Februari 2014

Kau di Antara Dingin dan Sepi

Dingin memang. Tapi ada makhluk lain yang lebih menyiksa dari sekadar dingin, ialah sepi. Seperti kabut asap, keduanya bersekongkol menyelinap ke dalam ruanganku. Halus pelan, masuk lewat lobang ventilasi, lewat celah bagian bawah pintu, terus merambat di bawah kolong meja, naik menyisir lembaran-lembaran kertas di atasnya, melewati jaring-jaring rak buku, merayap mengendap-endap di tembok, di langit-langit, memenuhi ruangan dan mulai menggerayangi tiap senti kulitku. Kemudian serupa bisikan roh gaib, mereka melesap dalam lobang telinga. Dengan menyerupa aroma mistis, mereka melesap dalam lobang hidung. Serupa jarum-jarum mikro, mereka menusuk-nusuk lembut memedihkan mata. Hingga menjelma hantu, merasuki setiap bagian tubuh, perlahan-lahan mengambil alih kesadaranku. Lalu aku pasrah, menyerahkan diri untuk memudar menyatu dengan dingin dan sepi. “Mungkin akan ada ketenangan.” pikirku di saat terakhir. Tetapi gagal. Tanpa aku tahu, ternyata masih ada bising dan hangat di satu sudut ruangan dalam diriku. Itu kau.

Bangsat! Kau malah tersenyum, lalu dengan tegas dan lantang mendeklamasi kalimat terakhir puisi Sia-sia milik Chairil Anwar, “Mampus kau dikoyak-koyak sepi!

sepi

Bandung, 25 Februari 2014

Debar Pamungkas

tak akan pupus
yang tak kau papas

apakah kau
menunggu getar di langit
untuk mau
mengobati getir pada aku yang langut?

tak akan pupus
yang tak kau papas

gelombang deras rindu akan menjelma debur yang keras
mengantarkan cinta sampai pada satu debar pamungkas

Angin dan Hujan

Hari ini cerah. Kalau berkunjung ke tempatku sekitar jam lima sore, kamu akan menemuiku sedang dalam posisi duduk di jendela kamar. Kebiasaanku yang sudah beberapa hari tidak kulakukan. Hujan adalah penyebabnya. Ia memaksaku untuk menutup jendela.

Tapi hari ini lain. Tidak ada hujan. Angin menggantikannya.

Hujan dan angin. Hmm… Kalau saja kamu ada di sini, kamu akan tahu bagaimana kedua makhluk Tuhan yang cantik ini mampu menciptakan suasana yang berbeda. Pasti kamu sering membaca kisah-kisah cengeng tentang hujan. Bagaimana dengan angin?

Continue reading →

Gerimis Pagi-pagi

Sore, pukul 18:15 aku mulai menulis yang sedang kamu baca tanpa tahu mau menulis apa sebelumnya. Aku mulai menulis cuma karena ingin menulis, bentuk usaha membunuh Si Keparat yang sejak pagi meresahkanku: rasa bosan. Kukira tidak akan ada yang menghukumku. Kamu juga sering berusaha membunuhnya kan? Aku tahu. Mungkin lain kali kita bisa berkomplot, melakukan pembunuhan bersama.

Tetapi baru saja, tepat setelah paragraf pertama selesai kutulis, gerimis membocorkan satu rahasia padaku. Dia berbisik, lembut mengelus gendang telingaku. Bukankah suatu rahasia memang harus disampaikan dengan sembunyi-sembunyi? Dan sekarang akan kubuat informasi ini menjadi bukan rahasia lagi. Kusampaikan padamu secara terbuka: Tuhan tidak pernah menciptakan rasa bosan. “Kau mengada-ada soal rasa bosan.” bisik gerimis, “Kalau rasa kangen, itu masih mungkin diciptakan Tuhan dan ditanamkan padamu.”

***

Continue reading →

Jilbab

Ini bukan panduan tentang bagaimana memakai jilbab yang benar. Ini bukan tulisan yang membahas mengenai apa perbedaan jilbab, hijab, dan kerudung. Tulisan ini tidak akan menakut-nakuti atau mengutuki temen-temen cewek yang tidak memakai jilbab, dan tidak akan nyuruh-nyuruh memakainya. Bukan juga tulisan dengan tujuan komersil jualan jilbab. Dan maaf, di sini tidak akan pula ditemukan kutipan-kutipan ayat kitab suci mengenai jilbab. Ini sekadar cerita. Tulisan iseng buat dibaca iseng-iseng.

jilbab

Continue reading →