Category Archives: Sang Malam

Mati Sejak Dalam Pikiran

…..

Penolakanmu sudah tidak berarti apa-apa. Justru dari sana saya pahami satu hal berharga: makna ikhlas dari sebuah usaha melepaskan. Tapi ada perkara lain yang sampai sekarang menyisakan luka.

“Maaf, aku lupa.”

Kamu mengatakannya tanpa beban saat saya coba mengembalikan kenangan-kenangan kita lewat cerita. Kamu masih perlu belajar, kukira, tentang bagaimana rasanya dilupakan. Suatu hari, semoga kamu paham tanpa merasakannya lebih dulu. Saya tidak tega kalau kamu harus merasakan juga, sebab pedihnya luar biasa.

Dilupakan berarti hilang. Kamu pikir untuk apa mata pelajaran sejarah harus disampaikan di sekolah-sekolah? Salah-satunya menjaga agar mereka yang telah mati tetap ada. Saya akan lebih memilih kamu caci-maki, bahkan kamu tikam lalu mati, tapi saya bisa tetap menghantui. Daripada kamu lupakan. Hantu mendapatkan ruang eksistensinya di dunia bukan dari roh penasaran yang hebat, tapi dari ingatan yang melekat kuat pada si hidup tentang si mati.

Maka cara membunuh yang paling kejam, tetapi bebas hukum adalah dengan melupakan. Ia yang kaubunuh akan mati sejak dalam pikiran.

Advertisements

Satu Pihak

Lelehan air hujan di jendela, seperti sandi morse. Aku bisa membacanya. Berisi pesan rindu yang dia kirim untukku. Bukan yang pertama. Hampir selalu, setiap kali turun hujan. Kalau aku sedang tidak di dekat jendela, dia akan menggunakan cara lain. Misalnya saat aku di jalan, dia bicara rindu lewat butir hujan yang ditabrakkan ke payungku. Irama ketukan-ketukannya menciptakan bahasa tertentu. Aku bisa menerjemahkannya. Atau ketika berteduh, aku bisa memahami isyarat kerinduan yang dia ciptakan lewat helai-helai air yang tergelincir dari atap.

Continue reading →

Terikat Pada Hujan

ini hujan yang sama…
di mana ribuan butir air jatuh di sekitar kita,
mewakili air mata yang harusnya semalam kuderai,
sesaat sehabis membaca pesan singkat darimu.

ini hujan yang sama…
hujan di hari lalu yang memberi kita jarak,
untuk tidak saling sapa,
meski bola mata menangkap bayang satu sama lain.

ini hujan yang sama…
hujan yang menyamarkan punggungmu
saat pergi melewatiku
sambil menyelinap di antara ratusan orang lainnya.

lalu lenyap,
mengikat ingatanku pada hujan yang sama.

Bandung, Oktober 2013

Tasbih Kayu

jika kuukir namamu di tiap 99 biji tasbih kayu milikku,

namamu ada di sela-sela jariku

bersamaan dengan nama-nama Tuhan di sela bibirku…

hahahahaha~

pasti kau akan marah padaku.

Bandung, 2013

Bijak Malam

Setelah hari itu, banyak malam yang telah kulalui. Semuanya biasa saja, selain di setiap malam-malam tersebut aku masih bisa melihat samar kelebat-kelebat hitam bayangan Sang Malam.Ia tertangkap mata, namun tak tersentuh rasa. Aku benar-benar tidak diberi daya untuk sekedar menyapanya, maka bercengkrama dengannya adalah seperti kekuatan pada tongkat Musa yang mampu membelah lautan. Ia jauh, entah menjauh atau dijauhkan. Aku benar-benar tidak diberi daya untuk sekedar mengetahuinya, maka mampu memahaminya adalah seperti kecerdasan yang membangun bahtera Nuh yang menyelamatkan banyak manusia dari banjir raksasa. Aku hanya diberi daya untuk memperhatikan gerak-geriknya, itupun dari jarak pandang mata tak normal dengan sarana yang kurang memadai –tanpa pancaran sinar petromak, apalagi lampu pijar.

Diinjak-injak oleh ketidak-berdayaan, beruntung alam berpihak padaku. Aku dibantu untuk mengetahui sedikit apa-apa yang telah-sedang-akan ia lalui lewat “krik-krik” jangkrik, sonar kelelawar, hembusan angin, temaram rembulan, kerlap-kerlip bintang, atau apapun yang mampu menghijrahkan informasi dari tempatnya ke tempatku. Memang informasi yang sampai tidak memiliki nilai kebenaran yang paripurna, tapi apa yang lebih berharga selain kabar tentang sesuatu yang telah lama hilang dan ia adalah yang sangat kau cintai?

Continue reading →

Jadikanlah Mendungmu Hujan, Sahabatku..

يَا صَاحِبِيْ

Wahai Sahabatku..

عِنْدَمَا كُنّا رِفَاقاً .. كَانَتِ الدُّنْيَا هَنا

Dahulu, ketika kita berteman.. Dunia amat menyenangkan..
عِنْدَمَا كُنَّا صِحَابًا .. نَرْتَضِي رَبَّ السَّمَا
Dahulu, ketika kita bersahabat… Kita mencari ridha tuhan langit..
صَاحِبِي .. مَاذَا جَرَى ؟

Sahabatku.. Apa yang terjadi?
مَا لِلْفُؤَادِ تَغَيَّرََ ؟
Apa yang membuat hati berubah?

ما لِلنُّفُوْسِ تَبَدَّلَتْ ؟

Apa yang membuat diri berbeda?
ما لِلْوِدَادِ تَكَدَّرَ ؟

Apa yang membuat cinta mengeruh?
يا صاحبي

wahai sahabatku..

أَوَلَمْ تَكِنْ يَوْماً لَنَا

Tidakkah ingat hari-hari kita..
نَجْماً يُضِيْءُ لَنَا السُرَى

Bintang menerangi kita, indah!
أَ تَبْعَدُ مُجْبَرًا أَمْ قَاصِداًً

Apakah kamu menjauh terpaksa? Ataukah sengaja?
لَا مَا عَهِدْتُكَ هَكَذَا

Tidak, aku tidak menjanjikanmu demikian..
قُلْ لِي بِرَبِّكَ يَا أَخِيْ

Katakan lah dengan nama Tuhanmu wahai saudaraku..

فَمَا عَهِدْتُكَ مُنْكِرَ
Aku tidak kan menyalahi janji..
قُلْ لِي بِرَبِّكَ صادقاً

Katakanlah dengan nama Tuhanmu akan kejujuran
أَتَظُنُّ جَهْدَكَ مُثمِرَ ؟
Apakah kamu menyangka usahamu berbuah hasil?
يا صاحبي
wahai sahabatku..

مِنْ حُزْنِي.. كَرَّرْتُهَا

Dari kepedihanku, ku ulangi..
لَكِن صَاحِبِي اِنْبَرَى

Akan tetapi sahabatku menentang..
مِنْ حُزْنِي.. كَرَّرْتُهَا

Dari kepedihanku, ku ulangi..
و صَاحِبِي لَا مَا دَرَى

Akan tetapi sahabatku tak mengerti..
مِنْ حُزْنِي.. كَرَّرْتُهَا

Dari kepedihanku, ku ulangi..
فَمَضَى بَعِيْدًا… وَ سَرَى

Telah lama berlalu.. dan berlanjut..

مِنْ حُزْنِي.. كَرَّرْتُهَا

Dari kepedihanku.. ku ulangi..
حتى جفا عيني
sehingga basah kedua mataku..
إني اقول حقيقةً

Sesungguhnya aku berkata sebenarnya..
فدع التجاهل والمِرا

Maka jauhilah saling menyalahkan dan perdebatan..
و اْرجِعْ إِلَيْنَا مُسْرِِعاً

Kembalilah kepada kami segera..

اِجْعَلْ سِحابَكَ مُمْطِرًا
Jadikanlah mendungmu hujan..
يا صاحبي ..

Wahai sahabatku..

*Syair diambil dari “يا صاحبي ما ذا جرى” oleh عماد الصقعبي

http://www.do7atkom.com/vb/showthread.php?t=8618

Selamat Pagi, Sang Malam!

Bersahabat dengan malam adalah hal yang ‘aneh bin ajaib’ bagiku. Aku selalu ketakutan bila malam mulai datang, bahkan untuk buang air menuju WC (bukan World Cup, tapi ruang privat kecil yang biasanya berada di bagian belakang rumah) pun aku minta ditemani kakak atau orang tuaku. Bukan aku manja, tapi mungkin itu karena aku didewasakan dalam keluarga yang juga terlalu melindungiku dari ‘bahaya’ malam. Selalu, berhari-hari sampai berpendidikan menengah pertama pun aku tidak pernah secara benar-benar menemui malam hari, hariku semuanya siang. Aku selalu lari dari malam, berlindung di sela gigi keluargaku, membentuk duniaku sendiri yang tanpa malam. Continue reading →