Category Archives: Politik

Yang Sebenarnya dan Yang Dilaporkan

oleh Hassan Blasim

Setiap pengungsi yang tinggal di pusat penampungan punya dua cerita–yang sebenarnya dan yang dilaporkan. Cerita untuk keperluan pelaporan disampaikan pengungsi-baru demi mendapat hak perlindungan kemanusiaan, dicatat dan disimpan sebagai dokumen penting di kantor imigrasi. Sedangkan cerita yang sebenarnya terkunci rapat di hati para pengungsi, untuk mereka renungkan diam-diam dalam kerahasiaan total. Bukan berarti ini mudah dilakukan, tinggal memisahkan dua versi cerita. Mereka mengaduknya hingga mustahil untuk dibedakan. Dua hari lalu seorang pengungsi baru asal Iraq tiba di Malmö, bagian selatan Swedia. Usianya sekitar akhir tigapuluhan. Mereka membawa lelaki itu ke pusat penampungan dan melakukan beberapa tes medis. Lalu mereka memberinya kamar, kasur, seprai, handuk, sabun, pisau, garpu dan sendok, serta peralatan masak. Hari ini dia duduk di hadapan petugas imigrasi, menceritakan kisahnya dengan tergesa, sampai-sampai petugas imigrasi berkali-kali memintanya agar lebih tenang.

Continue reading →

Advertisements

HAM: Sebuah Logika Terbalik*

*Disampaikan saat presentasi mata-kuliah PLSBT (Pendidikan Lingkungan Sosial Budaya dan Teknologi)

BAB III
PEMBAHASAN
1.  Logika Terbalik Perumusan HAM
Di bab sebelumnya telah disebutkan secara rinci mengenai latar belakang lahirnya ide hak asasi. Ide HAM lahir dari pemikiran bangsa barat di beberapa negara, seperti Yunani, Inggris, Amerika, dan Perancis. Jika diperhatikan, dari data sejarah yang menyatakan latar belakang munculnya HAM di negara-negara tersebut ternyata kesemuanya membentuk pola yang sama. Pola tersebut tampak jelas menunjukkan bahwa HAM muncul akibat perampasan hak-hak rakyat oleh pemimpinnya yang dzalim.

Continue reading →

Imam Masbuk

Iqomah berkumandang, Radimo masih belum bisa melepas pekerjaannya. Ia telat datang ke masjid, pun ketinggalan sholat berjama’ah.
 
Mulut Radimo : Wah, masih ada yang sholat. Tetep bisa jama’ahan nih..
 
Hati Radimo : Lah, orangnya gitu sih! Pakeannya kotor, rambutnya gondrong, bacaan sholatnya bener gak ya? Ngikut gak ya? Masa’ gak berjama’ah?
 
Akal Radimo : Nah, biar tetep berjama’ah & yaqin sholatnya sah biar saya aja lah yang jadi imam. Imam kan mesti meyakinkan tampilan & kemampuannya, kalo dia yang jadi imam saya gak yaqin.
 
Hati Radimo : Emang bisa gitu?
 
Akal Radimo : Kan ada ma’mum masbuk, berarti ada dong imam masbuk. Ini kan logikanya sama kaya orang-orang yang mengajukan diri jadi pemimpin atau wakil rakyat gitu.
 
(Akhirnya Radimo menepuk pundak yang sedang sholat, tapi tidak berdiri di belakang, justru berdiri di depan dan langsung takbir)
 
Anda gak perlu ngebayangin cerita selanjutnya..
 

Konsep 4 Sistem

Menyelesaikan Krisis Multidimensional: Konsep 4 Sistem dari Gus Dur

Tentu saja, konsepsi-konsepsi yang dikemukakan ini adalah bukan bentuk final dari apa yang Gus Dur pikirkan, karena justru masih memerlukan perbaikan-perbaikan serius, dan belum dapat digunakan sebagai konsepsi formal. Konsep empat sistem ini, masih harus diperjuangkan untuk masa kehidupan kita yang akan datang. Hanya dengan cara demikianlah, bangsa kita dapat mengatasi krisis multidimensional itu dengan cepat.

Empat sistem baru yang Gus Dur kemukakan; meliputi sistem politik (pemerintahan), perbaikan sistem ekonomi dengan mengemukakan sebuah orientasi baru, sistem pendidikan nasional dan sistem etika atau hukum, yang semuanya harus serba baru. Mengapa baru? Karena system lama tidak bisa dipakai lagi, tanpa akibat-akibat serius bagi kita.

Yang didahulukan adalah system politik (pemerintahan) yang baru. Kedua badan legislative yang baru, DPRD dan DPD haruslah menjadi perwakilan bicameral. Mereka bertugas menetapkan undang-undang serta menyetujui pengangkatan eksekutif dengan pemungutan suara. Sedangkan Presiden dan Wapres, Gubernur dan Wagub, Bupati dan wakilnya, serta Walikota dan wakilnya dipilih langsung oleh rakyat, karena kalau diserahkan langsung pada DPR dan DPRD saja hanya akan memperbesar korupsi. Di samping itu juga dibentuk MPR, yang hanya bersidang enam bulan saja, dalam lima tahun. Mereka bertugas menyusun GBHN, yang harus dilaksanakan seluruh komponen pemerintahan. Keanggotaannya, terdiri dari para anggota DPR, DPD dan dari golongan fungsional, guna menguntungkan kelompok-kelompok minoritas ikut serta dalam proses pengambilan keputusan, yang dicapai melalui prosedur musyawarah untuk mufakat, bukannya melalui pemungutan suara. Dengan demikian, kalangan minoritas turut serta memutuskan jalannya kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini diperlukan, agar semua pihak merasa memiliki Negara ini, dan dengan demikian menghindarkan separatism yang mulai bermunculan di sana-sini. Justru inilah yang merupakan tugas demokrasi, bukannya liberalisasi total.

Orientasi baru dalam system perekonomian kita, dicapai dengan melakukan pilihan berat antara dua hal, yaitu moratorium (penundaan sementara) cicilan tanggungan luar negeri kita, dan pembebasan para konglomerat hitam yang nakal dari tuntutan perdata, jika membayar kembali 95% kredit yang dia terima dari bank-bank pemerintah (tetapi tuntutan pidana tetap dilakukan oleh petugas-petugas hukum). Uang yang diterima dari kedua langkah ini, menurut perkiraan sekitar US$ 230 milyar, dan digunakan terutama untuk: Pertama, memberikan kredit ringan, kira-kira 5%/tahun bagi UKM dengan pengawasan ketat. Kedua, peningkatan pendapatan PNS dan militer, kira-kira sepuluh kali lipat dalam masa tiga tahun. Langkah ini guna mencegah KKN dan menegakkan kedaulatan hokum. Melalui cara ini pula, dapat memperbesar jumlah wajib pajak, menjadi 20 juta orang dalam lima tahun dan melipatgandakan kemampuan daya beli masyarakat. Sudah tentu dikombinasikan dengan hal-hal, seperti perbaikan undang-undang dan peraturan-peraturan yang ada, serta penataan kembali BI dan MA. Melalui langkah-langkah ini, diharapkan dengan cepat sebuah pemerintahan yang baru akan segera mengatasi krisis multi-dimensional ini.

Hal penting lainnya, kemampuan pemerintah dalam mengatasi krisis juga sangat bergantung pada kemampuan bekerja sama dengan negeri-negeri lain. Sudah tentu, ini harus dibarengi oleh dua buah perbaikan sistematik lain. Perbailan pertama, adalah perbaikan system pendidikan kita, yang hampir tidak memperhatikan penanaman nilai daripada hafalan. Karena tekanan yang sangat kecil kepada praktek kehidupan, dengan sendirinya hafalan mendapatkan perhatian yang luar biasa, dan pemahaman nilai-nilai jadi terbengkalai. Keadaan ini mengharuskan dibuatnya system pendidikan baru yang lebih ditekankan kepada system nilai dan struktur masyrakat yang ada, sehingga pendidikan berdasarkan masyarakat (community-based education) dapat dilaksanakan.

Dikombinasikan dengan perbaikan sistematik pada kerangka etika/moralitas/akhlak yang telah ada dalam kehidupan bangsa, maka perbaikan system hokum, akan menjadi dasar bagi pengampunan umum/rekonsiliasi atas kesalahan-kessalahn masa lampau, kecuali mereka yang bersalah dan dapat dibuktikan secara hokum oleh kekuasaan kehakiman dengan system pengadilan kita. Tentu saja, ini meliputi mereka yang sekarang disebut sebagai kaum fundamentalis/ekstremis dalam gerakan Islam, selama kejahatan yang mereka perbuat tidak dapat dibuktikan secara hokum. Sudah tentu ini berlawanan dengan kehendak orang lain yang ingin menghukum segala macam “kesalahan.” Namun, kita harus bertindak secara hokum, bukan karena pertimbangan-pertimbangan lain.

Malam, Hujan, dan Kita

Kegelapan masih menutupi genangan-genangan air di jalanan kota

Kegelapan masih membalut luka-luka membusuk di wajah penguasa

Kegelapan masih menyelamatkan jubah-jubah rombeng ulama

Kegelapan masih melindungi gumpalan-gumpalan bara api di genggaman warga

Deras hujan masih menjaga deru-deru mesin di tambang harta

Deras hujan masih mengurung keroncongan-keroncongan perut di gubuk derita

Deras hujan masih membuyarkan desingan-desingan peluru di beberapa sudut daerah

Deras hujan masih melestarikan nyanyian-nyanyian pilu di jiwa negara

Entah bagaimana esok pagi

Semoga Tuhan merahmati..

171110, bus Bhineka Cirebon-Bandung

Aku Teman, Bukan Teman Baik

Anda boleh menolak berjabat tangan denganku,
karena memang tanganku bisa saja mengotori tangan bersih Anda..
Tapi tolong, bisakah Anda tidak membuang muka saat kusapa?

Anda boleh tidak sudi melihat tampangku,
karena memang tampangku bisa saja mengeruhkan mata bening Anda..
Tapi tolong, bisakah Anda tidak menjawab sinis saat kutanya?

Anda boleh saja memukulku jika Anda mau,
tapi kupikir tongkat Anda akan terlalu berharga untuk mendarat di tubuhku..
Maka bisakah Anda bersikap ramah sedikit saja padaku?
Meskipun pura-pura, bagiku boleh-boleh saja..

Anda boleh saja meludahiku jika Anda berminat,
tapi kukira Anda terlalu tehormat untuk memberiku sekedar ludah..
Maka bisakah Anda memberi senyum kecil saja padaku?
Meskipun palsu, kuterima biasa-biasa saja..

Anda boleh saja menembakku jika menginginkan,
tapi yang kutahu harga peluru itu terlalu mahal
kalau hanya untuk menembus kepalaku..
Maka bisakah Anda mema’afkanku saja?
Dan berhenti menyiksaku teralu lama dengan rasa-rasa bersalah..

Anda boleh saja memarahiku jika menghendaki,
tapi kurasa energi yang diperlukan akan terlalu besar
kalau cuma untuk marah-marah..
Maka bisakah masalahnya Anda jelaskan saja?
Dan berhenti mendorongku ke dalam jurang prasangka-prasangka..

Silakan Anda membuang segala apa yang pernah kuberikan,
tapi bisakah Anda mencari-cari lagi sebuah kata teman?
Walaupun bukan teman yang baik,
kupercaya bisa-bisa saja..

Silakan Anda melupakan semua kisah yang pernah kuceritakan,
tapi bisakah Anda mengingat-ingat lagi bahwa aku ini teman?
Walaupun bukan teman yang baik,
kuberusaha tak akan sia-sia saja..

Janji Kentut

Janji dijanjikan janji..

Duut..!
Cas,
ces,
cos!

Duut..! Duut..!
Bak,
bik,
buk!

Duut..! Duut..! Duut..!
Dar,
der,
dor!

Janji tak kentut lagi,
tapi lagi-lagi kentuti janji..