Category Archives: Pendidikan

Apa Yang Aku Bicarakan Saat Tidak Ada Yang Bisa Dibicarakan

Aku ingin bicara dengan seseorang. Tentang apa dan pada siapa, aku tidak tahu. Tiap kata yang terpikirkan seperti lepas dari realitas dalam diriku. Atau tidak terhubung dengan realitas di luar aku. Menjadi tidak relevan disampaikan pada siapapun. Dan bukankah tidak ada kata yang layak dinyatakan jika tidak mewakili realitas apapun? Bahkan kata-kata dalam cerita fiksi yang apik tetap merepresentasikan realitas tertentu.

Tapi aku ingin bicara. Bicara. Continue reading →

Advertisements

Gadis di Atas Kulkas

oleh Etgar Keret

Fridge+thumb+1.jpg

Sendirian

Dia bercerita ke teman perempuannya bahwa dia pernah punya pacar yang suka menyendiri. Dan itu menyedihkan, karena mereka adalah sepasang kekasih. Secara teknis, pasangan artinya bersama. Tapi pacarnya itu malah lebih senang menghabiskan waktu sendirian. Maka, suatu ketika dia bertanya, “Kenapa? Apa ada yang salah denganku?”

Pacarnya menjawab, “Tidak, kamu tidak salah apa-apa. Ini berkaitan dengan masa kecilku.”

Dia sama sekali tidak mengerti. Sesuatu tentang masa kecil? Maka dia pun berusaha membuat analogi dengan masa kecilnya sendiri, tapi hasilnya nihil. Semakin dia memikirkan, masa kecilnya semakin tampak seperti lubang di gigi seseorang–tidak sehat, tapi bukan masalah besar, setidaknya bukan giginya yang berlubang. Dan gadis yang senang menyendiri itu, belum juga mau menemuinya. Dan itu semua gara-gara masa kecilnya! Masalah ini membuat dia kesal. Hingga akhirnya, dia sampaikan pada pacarnya, “Kamu pilih: jelaskan apa masalahmu atau kita putus!” Pacarnya bilang baiklah, dan mereka pun selesai sebagai pasangan kekasih.

Continue reading →

Kesenangan dan Siksaan

“Wah, baca itu juga ya? Itu novel keren banget!”

Saya sering membayangkan ada cewek cantik dari keluarga baik-baik dan belum punya pasangan seseorang bertanya/bisa-saya-tanya seperti itu saat saya/ia sedang membaca suatu novel atau buku apapun. Barangkali lewat pertanyaan basa-basi macam begitu selanjutnya kami bisa membicarakan banyak hal terkait buku tersebut. Sepertinya menyenangkan bertemu seseorang yang memiliki ketertarikan pada bacaan yang sama. Somekind of literary brothers.

Kejadiannya saya perkirakan, yang paling mungkin, di perpustakaan. Atau bisa saja di angkot dan tempat-tempat lain yang tidak disediakan khusus sebagai ruang baca, kalau buku yang dibaca tampak sebagai buku–maksud saya, bukan smartphone atau alat bantu baca buku digital lainnya.

tumblr_o0wr4pTgbA1sk77p3o1_1280

Continue reading →

Syair Mahasiswa Menjambret

oleh: Emha Ainun Nadjib (1993, dalam Sesobek Buku Harian Indonesia)

Sebab tergoda oleh betapa seru berita di koran serta oleh pengujian para tetangga, bertanyalah aku kepada penyairku, “Akir-akhir ini orang makin ribut tentang pelajaran dan mahasiswa kriminal. Aku bertanya benarkah puisimu tak membutuhkan tema semacam itu, atau tidakkah soal-soal seperti itu memerlukan puisi?”

“Aku tak paham apa yang aneh”, berkata penyairku, “Kalau mahasiswa mulai sanggup menjambret, kalau pelajar sudah berani mencuri odol, dan sikat gigi, kalau para calon pemimpin bangsa telah memiliki nyali untuk mencopet jam tangan dan mengutil sepatu: tak kumengerti apa yang perlu diherankan?”

Continue reading →

Seni dan Sastra, Pendidikan dan Cita-cita

Lima Rukun

Sabtu penghujung bulan September, tanggal duapuluh delapan, saya sempat-sempatkan hadir di acara Pamer Lukisan dan Puisi bertajuk “Lima Rukun” di studio Jeihan. Acaranya berlangsung seminggu. Di sana hadir lima penyair sekaligus pelukis, yang dua diantaranya saya kagumi betul. Sedangkan tiga lainnya saya sekedar tahu nama. Harap maklum, saya bukan pelaku seni lukis, saya tidak benar-benar menyelami dunia syair. Saya sekadar penikmat karya seni dan sastra. Kalaupun kadang-kadang muncul puisi dari saya, paling puisi murahan, jauh dari kriteria syair bermutu. Saya sekadar pengagum para seniman dan sastrawan secara umum. Menurut saya, merekalah golongan manusia yang paling merdeka di dunia ini. Mereka berkarya (bekerja) atas dasar kemauan sendiri, mendengar  suara hatinya dan fokus mencari kepuasan batin tanpa tekanan dari luar.

Continue reading →

Jangan Bercita-cita

Senang sekali menerima respon teman-teman saat melalui layanan pesan pendek kutanyai tentang cita-cita mereka sewaktu kecil dulu. Sekiranya itu akan membuat kenangan mereka kembali pada usia pra-sekolah, TK, sampai SD yang memang sedang sering-seringnya menerima pertanyaan macam itu. Orang tua, sanak-saudara, tetangga, guru, semua menanyakan apa cita-cita kita. Lingkungan menanamkan pada diri kita untuk harus, mesti, wajib memiliki cita-cita. Kita yang kesulitan menjawab pertanyaan ini langsung dianggap tidak akan menemukan masa depan yang cerah.

Padahal, setelah kupikir-pikir ternyata cita-cita itu tidak begitu penting. Seorang anak tidak harus memiliki cita-cita. Tidak perlu guru atau orang tua mewajibkan, atau bahkan sampai memaksa, anaknya punya cita-cita tinggi. Lah, Tuhan saja tidak mewajibkan kok! Misalnya saja dari dasar agama yang kuanut, Islam, tidak ada suruhan bercita-cita di sana. Yang ada itu tholabul ‘ilmi faridlotun ‘ala kulli muslimin walmuslimat, muslim cowok dan muslim cewek berkewajiban menuntut ilmu. Yang utama tentu ilmu yang wajib kita punyai, kemudian ilmu yang ingin kita ketahui, atau ilmu yang kita sukai, ilmu apa saja. Dari situ kita belajar, menemukan berbagai pengalaman.

Continue reading →

Galau Balau

Katanya salah satu orang terbrengsek di dunia ialah yang ngajarin orang lain nglakuin sesuatu, tapi ia sendiri gak nglakuin. Dengan dasar idiom tersebut, brengsek jugakah ia yang nglakuin sesuatu, tapi ngajarin orang lain untuk tidak nglakuin hal serupa?

Sepertinya brengsek juga, keduanya menggambarkan hal yang sama: kemunafikan. Perkara mewujudkan kesatuan kata dan perbuatan ini memang sulit. Aku yang sekarang sedang menempuh pendidikan berlatar belakang keguruan sudah sejak beberapa hari lalu mengalami kegalauan mengenai suatu jenis kemunafikan.

Sejenis kemunafikan yang mungkin akan sangat berbahaya bagi kelangsungan rasa aman dan nyaman psikologisku sebagai seorang guru kelak. Tidak hanya itu, mungkin ini akan begitu merugikan mereka yang menitipkan anak-anaknya kepadaku untuk dididik. Masih ada lagi, aku yaqin kemunafikan ini juga akan merusak mental dan moral anak-anak yang akan kudidik. Anak-anak yang kudidik ini kemudian akan terjun ke masyarakat, mungkin masuk dalam pemerintahan, yang pada akhirnya gara-gara sejenis kemunafikan yang kuperbuat mungkin saja negara ini akan hancur perlahan. Ini akan benar-benar menuju pada kegalau-balauan yang nyata, kita akan kacau beramai-ramai satu bangsa satu tanah air.

Continue reading →