Category Archives: Moral

Yang Sebenarnya dan Yang Dilaporkan

oleh Hassan Blasim

Setiap pengungsi yang tinggal di pusat penampungan punya dua cerita–yang sebenarnya dan yang dilaporkan. Cerita untuk keperluan pelaporan disampaikan pengungsi-baru demi mendapat hak perlindungan kemanusiaan, dicatat dan disimpan sebagai dokumen penting di kantor imigrasi. Sedangkan cerita yang sebenarnya terkunci rapat di hati para pengungsi, untuk mereka renungkan diam-diam dalam kerahasiaan total. Bukan berarti ini mudah dilakukan, tinggal memisahkan dua versi cerita. Mereka mengaduknya hingga mustahil untuk dibedakan. Dua hari lalu seorang pengungsi baru asal Iraq tiba di Malmö, bagian selatan Swedia. Usianya sekitar akhir tigapuluhan. Mereka membawa lelaki itu ke pusat penampungan dan melakukan beberapa tes medis. Lalu mereka memberinya kamar, kasur, seprai, handuk, sabun, pisau, garpu dan sendok, serta peralatan masak. Hari ini dia duduk di hadapan petugas imigrasi, menceritakan kisahnya dengan tergesa, sampai-sampai petugas imigrasi berkali-kali memintanya agar lebih tenang.

Continue reading →

Advertisements

Jilbab Putih yang Tersiram Cat Warna-warni

Tulisan ini saya buat terdorong oleh serial twit-nya Mbak Banu. Tentang kemewahan jilbab. Yang termanifestasi dalam fashion para hijabers. Hal yang juga sempat menjadi keresahan saya. Awalnya Mbak Banu menanggapi berita dari @inilahdotcom soal kecintaan Mbak Dian Pelangi terhadap tas. “Wah, mbaknya suka yang fana-fana,” kata Mbak Banu dengan dilanjutkan penjelasan, “Islam itu identik dengan kesederhanaan. Sejak jaman hijabers dan ala-ala Dian Pelangi, Islam jadi terwujud lewat baju butik mahal dan mewah.”

Kemudian cuitan Mbak Banu terus mengalir, mengomentari golongan “seleb-syariah” yang mengiklankan pakaian syar’i dengan harga gamis di atas 200 ribu atau jilbab yang selembarnya dibandroli 100 ribu lebih. Belum lagi aksesoris dan make up halalnya. “Dakwah biar muslimah mau berhijab kok nampilin Islam dengan branded cloth mahal. Islam yang berpihak pada proletarnya mana?” lanjut Mbak Banu. Menurutnya, style macam itu hanya akan memperluas jurang pemisah antara kaya dan miskin.

fatin-dian-pelangi Continue reading →

Jilbab

Ini bukan panduan tentang bagaimana memakai jilbab yang benar. Ini bukan tulisan yang membahas mengenai apa perbedaan jilbab, hijab, dan kerudung. Tulisan ini tidak akan menakut-nakuti atau mengutuki temen-temen cewek yang tidak memakai jilbab, dan tidak akan nyuruh-nyuruh memakainya. Bukan juga tulisan dengan tujuan komersil jualan jilbab. Dan maaf, di sini tidak akan pula ditemukan kutipan-kutipan ayat kitab suci mengenai jilbab. Ini sekadar cerita. Tulisan iseng buat dibaca iseng-iseng.

jilbab

Continue reading →

1 Syawal

“Bisakah kita saling setuju bahwa semua hari adalah tanggal 1 Syawal?” aku ingin mengirimimu pesan singkat seperti itu melalui ponselku, tapi masih ragu. Dalam hal ini kita tidak akan melibatkan kementrian agama. Kita tidak perlu mengundang ormas-ormas Islam untuk hadir dalam sidang isbat. Kita tidak harus mengerahkan banyak orang untuk menempati titik-titik tertentu demi melihat hilal. Kita juga tidak akan menyediakan ruang debat untuk mereka yang mempertentangkan penggunaan metode rukyat, metode hisab, atau sistem penanggalan adat. Ya, persetujuan itu hanya akan berlaku untuk aku dan kamu. Kita lepas dari aturan-aturan yang dibuat lingkungan. Oleh karena itu, kugunakan jalur komunikasi seperti biasanya, jalur privat yang tersembunyi dari publik.

salaman

Continue reading →

Syair Mahasiswa Menjambret

oleh: Emha Ainun Nadjib (1993, dalam Sesobek Buku Harian Indonesia)

Sebab tergoda oleh betapa seru berita di koran serta oleh pengujian para tetangga, bertanyalah aku kepada penyairku, “Akir-akhir ini orang makin ribut tentang pelajaran dan mahasiswa kriminal. Aku bertanya benarkah puisimu tak membutuhkan tema semacam itu, atau tidakkah soal-soal seperti itu memerlukan puisi?”

“Aku tak paham apa yang aneh”, berkata penyairku, “Kalau mahasiswa mulai sanggup menjambret, kalau pelajar sudah berani mencuri odol, dan sikat gigi, kalau para calon pemimpin bangsa telah memiliki nyali untuk mencopet jam tangan dan mengutil sepatu: tak kumengerti apa yang perlu diherankan?”

Continue reading →

Jika Jomblo Lalala, Maka Pacaran Yeyeye?

Hmm,.harus dari mana saya mulai? Titik start tulisan ini saya khawatirkan bakal ngasih pengaruh ke persepsi pembaca atas keberpihakan penulis terhadap kelompok tertentu. Sebab di sini saya mau nyoba nyampein pendapat tentang dua golongan yang secara de facto ada di lingkungan kita, baik lingkungan nyata maupun maya. Dua golongan ini punya sifat alamiah untuk saling bertentangan. Sedangkan saya mencoba netral, bahkan sebenarnya tidak mau ikut campur dan sok-sok-an berpendapat. Tapi lama-lama risih juga ngliatnya. Lha sosok yang dianggap tokoh (ustadz) aja ada kok yang masih ikut-ikutan ngurusin masalah beginian. Heuheu~ 🙂

Continue reading →

Momen

Kalau saja yang terjebak dalam momen tadi itu seorang penyair mungkin ia sudah menjadikannya sebuah sajak yang menyentuh. Bayangkan, di sepanjang perjalanan yang diselimuti berita duka ada alunan lagu-lagu slow-rock klasik, jendela kaca yang dilewati lelehan air hujan, genangan air di lubang jalan, hamparan sawah hijau, kelokan sungai membelah bukit-bukit, daun-daun basah di saling silangnya ranting, gadis kecil memayungi adiknya sepulang sekolah, serta jejeran warung kecil diisi cengkrama ibu-ibu.

hujan dan kaca

Continue reading →