Category Archives: Diri

Gadis di Atas Kulkas

oleh Etgar Keret

Fridge+thumb+1.jpg

Sendirian

Dia bercerita ke teman perempuannya bahwa dia pernah punya pacar yang suka menyendiri. Dan itu menyedihkan, karena mereka adalah sepasang kekasih. Secara teknis, pasangan artinya bersama. Tapi pacarnya itu malah lebih senang menghabiskan waktu sendirian. Maka, suatu ketika dia bertanya, “Kenapa? Apa ada yang salah denganku?”

Pacarnya menjawab, “Tidak, kamu tidak salah apa-apa. Ini berkaitan dengan masa kecilku.”

Dia sama sekali tidak mengerti. Sesuatu tentang masa kecil? Maka dia pun berusaha membuat analogi dengan masa kecilnya sendiri, tapi hasilnya nihil. Semakin dia memikirkan, masa kecilnya semakin tampak seperti lubang di gigi seseorang–tidak sehat, tapi bukan masalah besar, setidaknya bukan giginya yang berlubang. Dan gadis yang senang menyendiri itu, belum juga mau menemuinya. Dan itu semua gara-gara masa kecilnya! Masalah ini membuat dia kesal. Hingga akhirnya, dia sampaikan pada pacarnya, “Kamu pilih: jelaskan apa masalahmu atau kita putus!” Pacarnya bilang baiklah, dan mereka pun selesai sebagai pasangan kekasih.

Continue reading →

Advertisements

Sakit

Hari ini saya sakit. Bukan pening, perih, ngilu, nyeri, atau jenis sakit lain yang biasa membuat tidak nyaman kondisi fisikmu. Bukan sedih, cemas, marah, benci, kecewa, takut atau depresi; dan tidak seperti perasaan yang muncul setelah kamu dihina temanmu atau ketika tahu kekasihmu selingkuh.

Pagi tadi saat terjaga dari tidur, terasa bagian diri saya tidak lengkap. Seperti ada yang kosong di bagian tertentu, entah sebelah mana. Hilang. Tapi jelas bukan kaki, telinga, jari-jari, gigi, udel, lobang dubur dan sebagainya yang bisa segera saya sadari jika memang telah hilang. Dan saya yakin bukan juga jantung, ginjal, lambung, atau potongan tulang tertentu; itu bagian-bagian yang terlalu vital untuk fungsi kerja biologis tubuh saya–yang jika tercabut dari tempatnya bisa saja membuat saya lumpuh atau hilang kesadaran, bahkan mati. Sedangkan ini sakit yang saya rasakan dengan sangat sadar, hanya saja rumit.

emptiness Continue reading →

Hitam

Apa kau pikir hitam adalah satu dari sekian banyak warna? Bukan. Hitam adalah awal mula semesta, sebuah ketiadaan. Titik sebelum ada apa-apa, sebelum bermunculannya warna-warna, sebelum dimensi ruang-waktu dan suara-suara ada, sebelum bentuk-bentuk benda tercipta. Tuhan masih sebagai Sepi Sejati. Baru kemudian seperti ada retakan pada hitam oleh sebab penciptaan satu berkas cahaya, bahan induk dari semua makhluk ciptaan: Nur Muhammad. Dan hitampun seolah terbelah-belah menjadi kepingan tak berhingga; di antara setiap belahannya terisi oleh aku, olehmu, oleh ide-ide, ilmu pengetahuan, emosi, air-api-udara, bintang-planet, emas-besi, jin-malaikat, surga-neraka, oleh semua yang terjangkau oleh akal dan rasa. Tapi hitam bukan hilang, justru kita & semua berada di dalamnya, di dalam ketiadaan. Mungkin. Hitam.

light

Bandung, 27 Februari 2014

Kau di Antara Dingin dan Sepi

Dingin memang. Tapi ada makhluk lain yang lebih menyiksa dari sekadar dingin, ialah sepi. Seperti kabut asap, keduanya bersekongkol menyelinap ke dalam ruanganku. Halus pelan, masuk lewat lobang ventilasi, lewat celah bagian bawah pintu, terus merambat di bawah kolong meja, naik menyisir lembaran-lembaran kertas di atasnya, melewati jaring-jaring rak buku, merayap mengendap-endap di tembok, di langit-langit, memenuhi ruangan dan mulai menggerayangi tiap senti kulitku. Kemudian serupa bisikan roh gaib, mereka melesap dalam lobang telinga. Dengan menyerupa aroma mistis, mereka melesap dalam lobang hidung. Serupa jarum-jarum mikro, mereka menusuk-nusuk lembut memedihkan mata. Hingga menjelma hantu, merasuki setiap bagian tubuh, perlahan-lahan mengambil alih kesadaranku. Lalu aku pasrah, menyerahkan diri untuk memudar menyatu dengan dingin dan sepi. “Mungkin akan ada ketenangan.” pikirku di saat terakhir. Tetapi gagal. Tanpa aku tahu, ternyata masih ada bising dan hangat di satu sudut ruangan dalam diriku. Itu kau.

Bangsat! Kau malah tersenyum, lalu dengan tegas dan lantang mendeklamasi kalimat terakhir puisi Sia-sia milik Chairil Anwar, “Mampus kau dikoyak-koyak sepi!

sepi

Bandung, 25 Februari 2014

Angin dan Hujan

Hari ini cerah. Kalau berkunjung ke tempatku sekitar jam lima sore, kamu akan menemuiku sedang dalam posisi duduk di jendela kamar. Kebiasaanku yang sudah beberapa hari tidak kulakukan. Hujan adalah penyebabnya. Ia memaksaku untuk menutup jendela.

Tapi hari ini lain. Tidak ada hujan. Angin menggantikannya.

Hujan dan angin. Hmm… Kalau saja kamu ada di sini, kamu akan tahu bagaimana kedua makhluk Tuhan yang cantik ini mampu menciptakan suasana yang berbeda. Pasti kamu sering membaca kisah-kisah cengeng tentang hujan. Bagaimana dengan angin?

Continue reading →

Momen

Kalau saja yang terjebak dalam momen tadi itu seorang penyair mungkin ia sudah menjadikannya sebuah sajak yang menyentuh. Bayangkan, di sepanjang perjalanan yang diselimuti berita duka ada alunan lagu-lagu slow-rock klasik, jendela kaca yang dilewati lelehan air hujan, genangan air di lubang jalan, hamparan sawah hijau, kelokan sungai membelah bukit-bukit, daun-daun basah di saling silangnya ranting, gadis kecil memayungi adiknya sepulang sekolah, serta jejeran warung kecil diisi cengkrama ibu-ibu.

hujan dan kaca

Continue reading →

Titik

di atas tanah yang sepuh

tubuh-tubuh

resah, rusuh

hingga runtuh

terjatuh

dalam nafsu kumuh…

di bawah rembulan yang tak utuh

tubuh-tubuh

rebah, rubuh

hingga labuh

menyentuh

subuh yang lusuh…

dari satu titik

hingga titik terjauh,

dari bentuk jentik

hingga tubuh utuh

yang terus merapuh…

bakal engkaukah yang terakhir kusentuh?

Bandung, 28 September 2013