Category Archives: Cinta

Debar Pamungkas

tak akan pupus
yang tak kau papas

apakah kau
menunggu getar di langit
untuk mau
mengobati getir pada aku yang langut?

tak akan pupus
yang tak kau papas

gelombang deras rindu akan menjelma debur yang keras
mengantarkan cinta sampai pada satu debar pamungkas

Advertisements

Gerimis Pagi-pagi

Sore, pukul 18:15 aku mulai menulis yang sedang kamu baca tanpa tahu mau menulis apa sebelumnya. Aku mulai menulis cuma karena ingin menulis, bentuk usaha membunuh Si Keparat yang sejak pagi meresahkanku: rasa bosan. Kukira tidak akan ada yang menghukumku. Kamu juga sering berusaha membunuhnya kan? Aku tahu. Mungkin lain kali kita bisa berkomplot, melakukan pembunuhan bersama.

Tetapi baru saja, tepat setelah paragraf pertama selesai kutulis, gerimis membocorkan satu rahasia padaku. Dia berbisik, lembut mengelus gendang telingaku. Bukankah suatu rahasia memang harus disampaikan dengan sembunyi-sembunyi? Dan sekarang akan kubuat informasi ini menjadi bukan rahasia lagi. Kusampaikan padamu secara terbuka: Tuhan tidak pernah menciptakan rasa bosan. “Kau mengada-ada soal rasa bosan.” bisik gerimis, “Kalau rasa kangen, itu masih mungkin diciptakan Tuhan dan ditanamkan padamu.”

***

Continue reading →

1 Syawal

“Bisakah kita saling setuju bahwa semua hari adalah tanggal 1 Syawal?” aku ingin mengirimimu pesan singkat seperti itu melalui ponselku, tapi masih ragu. Dalam hal ini kita tidak akan melibatkan kementrian agama. Kita tidak perlu mengundang ormas-ormas Islam untuk hadir dalam sidang isbat. Kita tidak harus mengerahkan banyak orang untuk menempati titik-titik tertentu demi melihat hilal. Kita juga tidak akan menyediakan ruang debat untuk mereka yang mempertentangkan penggunaan metode rukyat, metode hisab, atau sistem penanggalan adat. Ya, persetujuan itu hanya akan berlaku untuk aku dan kamu. Kita lepas dari aturan-aturan yang dibuat lingkungan. Oleh karena itu, kugunakan jalur komunikasi seperti biasanya, jalur privat yang tersembunyi dari publik.

salaman

Continue reading →

Jika Jomblo Lalala, Maka Pacaran Yeyeye?

Hmm,.harus dari mana saya mulai? Titik start tulisan ini saya khawatirkan bakal ngasih pengaruh ke persepsi pembaca atas keberpihakan penulis terhadap kelompok tertentu. Sebab di sini saya mau nyoba nyampein pendapat tentang dua golongan yang secara de facto ada di lingkungan kita, baik lingkungan nyata maupun maya. Dua golongan ini punya sifat alamiah untuk saling bertentangan. Sedangkan saya mencoba netral, bahkan sebenarnya tidak mau ikut campur dan sok-sok-an berpendapat. Tapi lama-lama risih juga ngliatnya. Lha sosok yang dianggap tokoh (ustadz) aja ada kok yang masih ikut-ikutan ngurusin masalah beginian. Heuheu~ 🙂

Continue reading →

Kau dan Rasa Kangenku

rindu ini terus membesar

mengeras dan membatu

menjadi semacam berhala

menyesaki ruang ibadahku…

dan engkau lah ibrahim

perkasa memegang kapak,

kekuatan di tanganmu.

maka tolong hancurkan!

runtuhkan!

tak perlu disisakan…

tapi kenapa engkau hanya diam, o kekasih?

apa kau tak memahami rinduku?

***

kangen ini terus mengalir

deras dan membanjir

menjadi semacam bencana

merusak khusukku…

dan engkau lah nuh

cerdas membangun bahtera,

ilmu pengetahuan di kepalamu.

maka aku mohon selamatkan!

angkat aku, naikkan

aku di bahteramu yang menenangkan…

tapi kenapa engkau memalingkan muka, o kekasih?

apa kau tak peduli terhadap rasa kangenku?

Cirebon, Oktober 2013

Tasbih Kayu

jika kuukir namamu di tiap 99 biji tasbih kayu milikku,

namamu ada di sela-sela jariku

bersamaan dengan nama-nama Tuhan di sela bibirku…

hahahahaha~

pasti kau akan marah padaku.

Bandung, 2013

Titik

di atas tanah yang sepuh

tubuh-tubuh

resah, rusuh

hingga runtuh

terjatuh

dalam nafsu kumuh…

di bawah rembulan yang tak utuh

tubuh-tubuh

rebah, rubuh

hingga labuh

menyentuh

subuh yang lusuh…

dari satu titik

hingga titik terjauh,

dari bentuk jentik

hingga tubuh utuh

yang terus merapuh…

bakal engkaukah yang terakhir kusentuh?

Bandung, 28 September 2013