Category Archives: Asmara

Gadis di Atas Kulkas

oleh Etgar Keret

Fridge+thumb+1.jpg

Sendirian

Dia bercerita ke teman perempuannya bahwa dia pernah punya pacar yang suka menyendiri. Dan itu menyedihkan, karena mereka adalah sepasang kekasih. Secara teknis, pasangan artinya bersama. Tapi pacarnya itu malah lebih senang menghabiskan waktu sendirian. Maka, suatu ketika dia bertanya, “Kenapa? Apa ada yang salah denganku?”

Pacarnya menjawab, “Tidak, kamu tidak salah apa-apa. Ini berkaitan dengan masa kecilku.”

Dia sama sekali tidak mengerti. Sesuatu tentang masa kecil? Maka dia pun berusaha membuat analogi dengan masa kecilnya sendiri, tapi hasilnya nihil. Semakin dia memikirkan, masa kecilnya semakin tampak seperti lubang di gigi seseorang–tidak sehat, tapi bukan masalah besar, setidaknya bukan giginya yang berlubang. Dan gadis yang senang menyendiri itu, belum juga mau menemuinya. Dan itu semua gara-gara masa kecilnya! Masalah ini membuat dia kesal. Hingga akhirnya, dia sampaikan pada pacarnya, “Kamu pilih: jelaskan apa masalahmu atau kita putus!” Pacarnya bilang baiklah, dan mereka pun selesai sebagai pasangan kekasih.

Continue reading →

Advertisements

Mati Sejak Dalam Pikiran

…..

Penolakanmu sudah tidak berarti apa-apa. Justru dari sana saya pahami satu hal berharga: makna ikhlas dari sebuah usaha melepaskan. Tapi ada perkara lain yang sampai sekarang menyisakan luka.

“Maaf, aku lupa.”

Kamu mengatakannya tanpa beban saat saya coba mengembalikan kenangan-kenangan kita lewat cerita. Kamu masih perlu belajar, kukira, tentang bagaimana rasanya dilupakan. Suatu hari, semoga kamu paham tanpa merasakannya lebih dulu. Saya tidak tega kalau kamu harus merasakan juga, sebab pedihnya luar biasa.

Dilupakan berarti hilang. Kamu pikir untuk apa mata pelajaran sejarah harus disampaikan di sekolah-sekolah? Salah-satunya menjaga agar mereka yang telah mati tetap ada. Saya akan lebih memilih kamu caci-maki, bahkan kamu tikam lalu mati, tapi saya bisa tetap menghantui. Daripada kamu lupakan. Hantu mendapatkan ruang eksistensinya di dunia bukan dari roh penasaran yang hebat, tapi dari ingatan yang melekat kuat pada si hidup tentang si mati.

Maka cara membunuh yang paling kejam, tetapi bebas hukum adalah dengan melupakan. Ia yang kaubunuh akan mati sejak dalam pikiran.

Satu Pihak

Lelehan air hujan di jendela, seperti sandi morse. Aku bisa membacanya. Berisi pesan rindu yang dia kirim untukku. Bukan yang pertama. Hampir selalu, setiap kali turun hujan. Kalau aku sedang tidak di dekat jendela, dia akan menggunakan cara lain. Misalnya saat aku di jalan, dia bicara rindu lewat butir hujan yang ditabrakkan ke payungku. Irama ketukan-ketukannya menciptakan bahasa tertentu. Aku bisa menerjemahkannya. Atau ketika berteduh, aku bisa memahami isyarat kerinduan yang dia ciptakan lewat helai-helai air yang tergelincir dari atap.

Continue reading →

Debar Pamungkas

tak akan pupus
yang tak kau papas

apakah kau
menunggu getar di langit
untuk mau
mengobati getir pada aku yang langut?

tak akan pupus
yang tak kau papas

gelombang deras rindu akan menjelma debur yang keras
mengantarkan cinta sampai pada satu debar pamungkas

Gerimis Pagi-pagi

Sore, pukul 18:15 aku mulai menulis yang sedang kamu baca tanpa tahu mau menulis apa sebelumnya. Aku mulai menulis cuma karena ingin menulis, bentuk usaha membunuh Si Keparat yang sejak pagi meresahkanku: rasa bosan. Kukira tidak akan ada yang menghukumku. Kamu juga sering berusaha membunuhnya kan? Aku tahu. Mungkin lain kali kita bisa berkomplot, melakukan pembunuhan bersama.

Tetapi baru saja, tepat setelah paragraf pertama selesai kutulis, gerimis membocorkan satu rahasia padaku. Dia berbisik, lembut mengelus gendang telingaku. Bukankah suatu rahasia memang harus disampaikan dengan sembunyi-sembunyi? Dan sekarang akan kubuat informasi ini menjadi bukan rahasia lagi. Kusampaikan padamu secara terbuka: Tuhan tidak pernah menciptakan rasa bosan. “Kau mengada-ada soal rasa bosan.” bisik gerimis, “Kalau rasa kangen, itu masih mungkin diciptakan Tuhan dan ditanamkan padamu.”

***

Continue reading →

1 Syawal

“Bisakah kita saling setuju bahwa semua hari adalah tanggal 1 Syawal?” aku ingin mengirimimu pesan singkat seperti itu melalui ponselku, tapi masih ragu. Dalam hal ini kita tidak akan melibatkan kementrian agama. Kita tidak perlu mengundang ormas-ormas Islam untuk hadir dalam sidang isbat. Kita tidak harus mengerahkan banyak orang untuk menempati titik-titik tertentu demi melihat hilal. Kita juga tidak akan menyediakan ruang debat untuk mereka yang mempertentangkan penggunaan metode rukyat, metode hisab, atau sistem penanggalan adat. Ya, persetujuan itu hanya akan berlaku untuk aku dan kamu. Kita lepas dari aturan-aturan yang dibuat lingkungan. Oleh karena itu, kugunakan jalur komunikasi seperti biasanya, jalur privat yang tersembunyi dari publik.

salaman

Continue reading →

Jika Jomblo Lalala, Maka Pacaran Yeyeye?

Hmm,.harus dari mana saya mulai? Titik start tulisan ini saya khawatirkan bakal ngasih pengaruh ke persepsi pembaca atas keberpihakan penulis terhadap kelompok tertentu. Sebab di sini saya mau nyoba nyampein pendapat tentang dua golongan yang secara de facto ada di lingkungan kita, baik lingkungan nyata maupun maya. Dua golongan ini punya sifat alamiah untuk saling bertentangan. Sedangkan saya mencoba netral, bahkan sebenarnya tidak mau ikut campur dan sok-sok-an berpendapat. Tapi lama-lama risih juga ngliatnya. Lha sosok yang dianggap tokoh (ustadz) aja ada kok yang masih ikut-ikutan ngurusin masalah beginian. Heuheu~ 🙂

Continue reading →