Category Archives: Aku

Angin dan Hujan

Hari ini cerah. Kalau berkunjung ke tempatku sekitar jam lima sore, kamu akan menemuiku sedang dalam posisi duduk di jendela kamar. Kebiasaanku yang sudah beberapa hari tidak kulakukan. Hujan adalah penyebabnya. Ia memaksaku untuk menutup jendela.

Tapi hari ini lain. Tidak ada hujan. Angin menggantikannya.

Hujan dan angin. Hmm… Kalau saja kamu ada di sini, kamu akan tahu bagaimana kedua makhluk Tuhan yang cantik ini mampu menciptakan suasana yang berbeda. Pasti kamu sering membaca kisah-kisah cengeng tentang hujan. Bagaimana dengan angin?

Continue reading →

Advertisements

Gerimis Pagi-pagi

Sore, pukul 18:15 aku mulai menulis yang sedang kamu baca tanpa tahu mau menulis apa sebelumnya. Aku mulai menulis cuma karena ingin menulis, bentuk usaha membunuh Si Keparat yang sejak pagi meresahkanku: rasa bosan. Kukira tidak akan ada yang menghukumku. Kamu juga sering berusaha membunuhnya kan? Aku tahu. Mungkin lain kali kita bisa berkomplot, melakukan pembunuhan bersama.

Tetapi baru saja, tepat setelah paragraf pertama selesai kutulis, gerimis membocorkan satu rahasia padaku. Dia berbisik, lembut mengelus gendang telingaku. Bukankah suatu rahasia memang harus disampaikan dengan sembunyi-sembunyi? Dan sekarang akan kubuat informasi ini menjadi bukan rahasia lagi. Kusampaikan padamu secara terbuka: Tuhan tidak pernah menciptakan rasa bosan. “Kau mengada-ada soal rasa bosan.” bisik gerimis, “Kalau rasa kangen, itu masih mungkin diciptakan Tuhan dan ditanamkan padamu.”

***

Continue reading →

Terikat Pada Hujan

ini hujan yang sama…
di mana ribuan butir air jatuh di sekitar kita,
mewakili air mata yang harusnya semalam kuderai,
sesaat sehabis membaca pesan singkat darimu.

ini hujan yang sama…
hujan di hari lalu yang memberi kita jarak,
untuk tidak saling sapa,
meski bola mata menangkap bayang satu sama lain.

ini hujan yang sama…
hujan yang menyamarkan punggungmu
saat pergi melewatiku
sambil menyelinap di antara ratusan orang lainnya.

lalu lenyap,
mengikat ingatanku pada hujan yang sama.

Bandung, Oktober 2013

Titik

di atas tanah yang sepuh

tubuh-tubuh

resah, rusuh

hingga runtuh

terjatuh

dalam nafsu kumuh…

di bawah rembulan yang tak utuh

tubuh-tubuh

rebah, rubuh

hingga labuh

menyentuh

subuh yang lusuh…

dari satu titik

hingga titik terjauh,

dari bentuk jentik

hingga tubuh utuh

yang terus merapuh…

bakal engkaukah yang terakhir kusentuh?

Bandung, 28 September 2013

Yang Tak Bernama

Menjelang siangnya ia tahu-tahu saja duduk, atau lebih tepat jongkok seperti kita yang sedang buang air besar, di kusen jendela sebuah kamar. Tangannya dikulaikan lemas ke depan ditopang lutut dengan pandangan menghadap keluar menyapu daun-daun, rumput-rumput, ilalang juga jemuran seprai yang semuanya hijau. Sekilas itu tampak sebagai usaha untuk menyiangi sampah-sampah di kepalanya, mengelap bola matanya yang kusam karena lelah.

Terang saja, sedari pagi ia berlama-lama duduk bersila memfokuskan mata ke layar kecil 13 inch. Layar yang menghubungkannya ke dunia ketiga, dunia antara, nyata dan ghaib. Masuk-keluar ke tiap-tiap ruang maya. Mulai dari jejaring sosial, forum-forum, halaman-halaman penyampai berita, blog-blog pribadi, sampaipun situs-situs penyedia konten dewasa ia sambangi.

Continue reading →

Ini Juga Kangen

Aku kangen. Bagaimana kok kangen ini tahu-tahu nongolNongol lagi, padahal sudah lama tidak. Kangen ini, perasaan yang sebenarnya tidak nyaman dan mengganggu stabilitas diri. Ingin kusingkirkan, ingin menghilangkannya. Kalau bisa selamanya. Tapi ya gitu, kadang-kadang masih saja datang, mungkin karena diam-diam bagian diriku yang lain suka meni’matinya.

Kangenku kali ini tertuju pada “siapa” atau “apa”, mulai tidak begitu jelas. “Siapa” yang kumaksudkan di situ adalah fisik, jasad, wujud daging seseorang. Sedangkan “apa” lebih luas, bisa bersifat fisik ataupun metafisik. Jadi, pada “siapa” bisa terdapat “apa”. Nah, “apa” yang kemungkinan aku kangenin adalah “apa” yang terdapat pada “siapa” itu, dan sifatnya metafisik. Nggak jelas ya?

Continue reading →

Mengejar Sisi Terang Langit

Di sini memang sedang gelap

Cahya yang kau mau ditutup oleh hitam

Di sini memang tampak seram dan suram

Tapi tunggulah sebentar

Akan tiba butiran bening yang segar

Tunggulah saja, sabar

Jangan dulu mengejar

sisi terang langit yang sangar

Apa?

Kau tak tahu di sana sangat membakar?

Iya, di sini saja sabar.

Cianjur, 06 April 2012