Category Archives: Aku

Kesenangan dan Siksaan

“Wah, baca itu juga ya? Itu novel keren banget!”

Saya sering membayangkan ada cewek cantik dari keluarga baik-baik dan belum punya pasangan seseorang bertanya/bisa-saya-tanya seperti itu saat saya/ia sedang membaca suatu novel atau buku apapun. Barangkali lewat pertanyaan basa-basi macam begitu selanjutnya kami bisa membicarakan banyak hal terkait buku tersebut. Sepertinya menyenangkan bertemu seseorang yang memiliki ketertarikan pada bacaan yang sama. Somekind of literary brothers.

Kejadiannya saya perkirakan, yang paling mungkin, di perpustakaan. Atau bisa saja di angkot dan tempat-tempat lain yang tidak disediakan khusus sebagai ruang baca, kalau buku yang dibaca tampak sebagai buku–maksud saya, bukan smartphone atau alat bantu baca buku digital lainnya.

tumblr_o0wr4pTgbA1sk77p3o1_1280

Continue reading →

Advertisements

Sakit

Hari ini saya sakit. Bukan pening, perih, ngilu, nyeri, atau jenis sakit lain yang biasa membuat tidak nyaman kondisi fisikmu. Bukan sedih, cemas, marah, benci, kecewa, takut atau depresi; dan tidak seperti perasaan yang muncul setelah kamu dihina temanmu atau ketika tahu kekasihmu selingkuh.

Pagi tadi saat terjaga dari tidur, terasa bagian diri saya tidak lengkap. Seperti ada yang kosong di bagian tertentu, entah sebelah mana. Hilang. Tapi jelas bukan kaki, telinga, jari-jari, gigi, udel, lobang dubur dan sebagainya yang bisa segera saya sadari jika memang telah hilang. Dan saya yakin bukan juga jantung, ginjal, lambung, atau potongan tulang tertentu; itu bagian-bagian yang terlalu vital untuk fungsi kerja biologis tubuh saya–yang jika tercabut dari tempatnya bisa saja membuat saya lumpuh atau hilang kesadaran, bahkan mati. Sedangkan ini sakit yang saya rasakan dengan sangat sadar, hanya saja rumit.

emptiness Continue reading →

Mati Sejak Dalam Pikiran

…..

Penolakanmu sudah tidak berarti apa-apa. Justru dari sana saya pahami satu hal berharga: makna ikhlas dari sebuah usaha melepaskan. Tapi ada perkara lain yang sampai sekarang menyisakan luka.

“Maaf, aku lupa.”

Kamu mengatakannya tanpa beban saat saya coba mengembalikan kenangan-kenangan kita lewat cerita. Kamu masih perlu belajar, kukira, tentang bagaimana rasanya dilupakan. Suatu hari, semoga kamu paham tanpa merasakannya lebih dulu. Saya tidak tega kalau kamu harus merasakan juga, sebab pedihnya luar biasa.

Dilupakan berarti hilang. Kamu pikir untuk apa mata pelajaran sejarah harus disampaikan di sekolah-sekolah? Salah-satunya menjaga agar mereka yang telah mati tetap ada. Saya akan lebih memilih kamu caci-maki, bahkan kamu tikam lalu mati, tapi saya bisa tetap menghantui. Daripada kamu lupakan. Hantu mendapatkan ruang eksistensinya di dunia bukan dari roh penasaran yang hebat, tapi dari ingatan yang melekat kuat pada si hidup tentang si mati.

Maka cara membunuh yang paling kejam, tetapi bebas hukum adalah dengan melupakan. Ia yang kaubunuh akan mati sejak dalam pikiran.

Satu Pihak

Lelehan air hujan di jendela, seperti sandi morse. Aku bisa membacanya. Berisi pesan rindu yang dia kirim untukku. Bukan yang pertama. Hampir selalu, setiap kali turun hujan. Kalau aku sedang tidak di dekat jendela, dia akan menggunakan cara lain. Misalnya saat aku di jalan, dia bicara rindu lewat butir hujan yang ditabrakkan ke payungku. Irama ketukan-ketukannya menciptakan bahasa tertentu. Aku bisa menerjemahkannya. Atau ketika berteduh, aku bisa memahami isyarat kerinduan yang dia ciptakan lewat helai-helai air yang tergelincir dari atap.

Continue reading →

Hitam

Apa kau pikir hitam adalah satu dari sekian banyak warna? Bukan. Hitam adalah awal mula semesta, sebuah ketiadaan. Titik sebelum ada apa-apa, sebelum bermunculannya warna-warna, sebelum dimensi ruang-waktu dan suara-suara ada, sebelum bentuk-bentuk benda tercipta. Tuhan masih sebagai Sepi Sejati. Baru kemudian seperti ada retakan pada hitam oleh sebab penciptaan satu berkas cahaya, bahan induk dari semua makhluk ciptaan: Nur Muhammad. Dan hitampun seolah terbelah-belah menjadi kepingan tak berhingga; di antara setiap belahannya terisi oleh aku, olehmu, oleh ide-ide, ilmu pengetahuan, emosi, air-api-udara, bintang-planet, emas-besi, jin-malaikat, surga-neraka, oleh semua yang terjangkau oleh akal dan rasa. Tapi hitam bukan hilang, justru kita & semua berada di dalamnya, di dalam ketiadaan. Mungkin. Hitam.

light

Bandung, 27 Februari 2014

Kau di Antara Dingin dan Sepi

Dingin memang. Tapi ada makhluk lain yang lebih menyiksa dari sekadar dingin, ialah sepi. Seperti kabut asap, keduanya bersekongkol menyelinap ke dalam ruanganku. Halus pelan, masuk lewat lobang ventilasi, lewat celah bagian bawah pintu, terus merambat di bawah kolong meja, naik menyisir lembaran-lembaran kertas di atasnya, melewati jaring-jaring rak buku, merayap mengendap-endap di tembok, di langit-langit, memenuhi ruangan dan mulai menggerayangi tiap senti kulitku. Kemudian serupa bisikan roh gaib, mereka melesap dalam lobang telinga. Dengan menyerupa aroma mistis, mereka melesap dalam lobang hidung. Serupa jarum-jarum mikro, mereka menusuk-nusuk lembut memedihkan mata. Hingga menjelma hantu, merasuki setiap bagian tubuh, perlahan-lahan mengambil alih kesadaranku. Lalu aku pasrah, menyerahkan diri untuk memudar menyatu dengan dingin dan sepi. “Mungkin akan ada ketenangan.” pikirku di saat terakhir. Tetapi gagal. Tanpa aku tahu, ternyata masih ada bising dan hangat di satu sudut ruangan dalam diriku. Itu kau.

Bangsat! Kau malah tersenyum, lalu dengan tegas dan lantang mendeklamasi kalimat terakhir puisi Sia-sia milik Chairil Anwar, “Mampus kau dikoyak-koyak sepi!

sepi

Bandung, 25 Februari 2014

Angin dan Hujan

Hari ini cerah. Kalau berkunjung ke tempatku sekitar jam lima sore, kamu akan menemuiku sedang dalam posisi duduk di jendela kamar. Kebiasaanku yang sudah beberapa hari tidak kulakukan. Hujan adalah penyebabnya. Ia memaksaku untuk menutup jendela.

Tapi hari ini lain. Tidak ada hujan. Angin menggantikannya.

Hujan dan angin. Hmm… Kalau saja kamu ada di sini, kamu akan tahu bagaimana kedua makhluk Tuhan yang cantik ini mampu menciptakan suasana yang berbeda. Pasti kamu sering membaca kisah-kisah cengeng tentang hujan. Bagaimana dengan angin?

Continue reading →