Author Archive: amexrijal

Kenapa Aku Menunggu Begitu Lama Untuk Mati

Saya baru saja menamatkan novel Rahasia Hati karya Natsume Soseki. Salah satu tokoh dalam novel menulis pesan sebelum mengoyak nadinya sendiri. Judul tulisan ini adalah kalimat penutup dari pesan tersebut. Dari situ mungkin kamu bisa menebak, suasana macam apa yang digambarkan Rahasia Hati. Ia banyak bicara tentang kesepian, keterasingan, ketidak-berdayaan manusia di hadapan realitas-hidup–mesin besar dengan segala perangkatnya (manusia lain, kumpulan manusia yang biasa disebut masyarakat, norma dan nilai yang berlaku, doktrin moral, dan sebagainya) yang seringkali menggilas orang per orang sebagai individu.

Continue reading →

Advertisements

Apa Yang Aku Bicarakan Saat Tidak Ada Yang Bisa Dibicarakan

Aku ingin bicara dengan seseorang. Tentang apa dan pada siapa, aku tidak tahu. Tiap kata yang terpikirkan seperti lepas dari realitas dalam diriku. Atau tidak terhubung dengan realitas di luar aku. Menjadi tidak relevan disampaikan pada siapapun. Dan bukankah tidak ada kata yang layak dinyatakan jika tidak mewakili realitas apapun? Bahkan kata-kata dalam cerita fiksi yang apik tetap merepresentasikan realitas tertentu.

Tapi aku ingin bicara. Bicara. Continue reading →

Yang Sebenarnya dan Yang Dilaporkan

oleh Hassan Blasim

Setiap pengungsi yang tinggal di pusat penampungan punya dua cerita–yang sebenarnya dan yang dilaporkan. Cerita untuk keperluan pelaporan disampaikan pengungsi-baru demi mendapat hak perlindungan kemanusiaan, dicatat dan disimpan sebagai dokumen penting di kantor imigrasi. Sedangkan cerita yang sebenarnya terkunci rapat di hati para pengungsi, untuk mereka renungkan diam-diam dalam kerahasiaan total. Bukan berarti ini mudah dilakukan, tinggal memisahkan dua versi cerita. Mereka mengaduknya hingga mustahil untuk dibedakan. Dua hari lalu seorang pengungsi baru asal Iraq tiba di Malmö, bagian selatan Swedia. Usianya sekitar akhir tigapuluhan. Mereka membawa lelaki itu ke pusat penampungan dan melakukan beberapa tes medis. Lalu mereka memberinya kamar, kasur, seprai, handuk, sabun, pisau, garpu dan sendok, serta peralatan masak. Hari ini dia duduk di hadapan petugas imigrasi, menceritakan kisahnya dengan tergesa, sampai-sampai petugas imigrasi berkali-kali memintanya agar lebih tenang.

Continue reading →

Gadis di Atas Kulkas

oleh Etgar Keret

Fridge+thumb+1.jpg

Sendirian

Dia bercerita ke teman perempuannya bahwa dia pernah punya pacar yang suka menyendiri. Dan itu menyedihkan, karena mereka adalah sepasang kekasih. Secara teknis, pasangan artinya bersama. Tapi pacarnya itu malah lebih senang menghabiskan waktu sendirian. Maka, suatu ketika dia bertanya, “Kenapa? Apa ada yang salah denganku?”

Pacarnya menjawab, “Tidak, kamu tidak salah apa-apa. Ini berkaitan dengan masa kecilku.”

Dia sama sekali tidak mengerti. Sesuatu tentang masa kecil? Maka dia pun berusaha membuat analogi dengan masa kecilnya sendiri, tapi hasilnya nihil. Semakin dia memikirkan, masa kecilnya semakin tampak seperti lubang di gigi seseorang–tidak sehat, tapi bukan masalah besar, setidaknya bukan giginya yang berlubang. Dan gadis yang senang menyendiri itu, belum juga mau menemuinya. Dan itu semua gara-gara masa kecilnya! Masalah ini membuat dia kesal. Hingga akhirnya, dia sampaikan pada pacarnya, “Kamu pilih: jelaskan apa masalahmu atau kita putus!” Pacarnya bilang baiklah, dan mereka pun selesai sebagai pasangan kekasih.

Continue reading →

Kesenangan dan Siksaan

“Wah, baca itu juga ya? Itu novel keren banget!”

Saya sering membayangkan ada cewek cantik dari keluarga baik-baik dan belum punya pasangan seseorang bertanya/bisa-saya-tanya seperti itu saat saya/ia sedang membaca suatu novel atau buku apapun. Barangkali lewat pertanyaan basa-basi macam begitu selanjutnya kami bisa membicarakan banyak hal terkait buku tersebut. Sepertinya menyenangkan bertemu seseorang yang memiliki ketertarikan pada bacaan yang sama. Somekind of literary brothers.

Kejadiannya saya perkirakan, yang paling mungkin, di perpustakaan. Atau bisa saja di angkot dan tempat-tempat lain yang tidak disediakan khusus sebagai ruang baca, kalau buku yang dibaca tampak sebagai buku–maksud saya, bukan smartphone atau alat bantu baca buku digital lainnya.

tumblr_o0wr4pTgbA1sk77p3o1_1280

Continue reading →

C a n t i k

Saya pernah disidang oleh sekelompok perempuan, teman-teman saya sendiri. “Soalnya kamu mah kayak yang nggak suka cewek,” itu kata mereka. Saya di tengah, mereka duduk melingkari. Satu yang duduk tepat di depan saya menunjukkan lewat laptopnya foto seorang wanita, mungkin selebritis atau hasil nyomot sembarangan dari internet–saya tidak kenal, lalu bertanya “Cantik nggak?”

Mmm…” jeda agak lama. Saya bilang, “Nggak bisa segampang itu ngenilai cewek cantik atau nggak.”

Ah, kamu mah lieur. Tinggal bilang cantik atau nggak aja tuh!”

female facesSebelum melanjutkan, saya sarankan lebih dulu membaca ini: Apa itu Cantik? Biar enak.

Continue reading →

Sakit

Hari ini saya sakit. Bukan pening, perih, ngilu, nyeri, atau jenis sakit lain yang biasa membuat tidak nyaman kondisi fisikmu. Bukan sedih, cemas, marah, benci, kecewa, takut atau depresi; dan tidak seperti perasaan yang muncul setelah kamu dihina temanmu atau ketika tahu kekasihmu selingkuh.

Pagi tadi saat terjaga dari tidur, terasa bagian diri saya tidak lengkap. Seperti ada yang kosong di bagian tertentu, entah sebelah mana. Hilang. Tapi jelas bukan kaki, telinga, jari-jari, gigi, udel, lobang dubur dan sebagainya yang bisa segera saya sadari jika memang telah hilang. Dan saya yakin bukan juga jantung, ginjal, lambung, atau potongan tulang tertentu; itu bagian-bagian yang terlalu vital untuk fungsi kerja biologis tubuh saya–yang jika tercabut dari tempatnya bisa saja membuat saya lumpuh atau hilang kesadaran, bahkan mati. Sedangkan ini sakit yang saya rasakan dengan sangat sadar, hanya saja rumit.

emptiness Continue reading →