Kenapa Aku Menunggu Begitu Lama Untuk Mati

Saya baru saja menamatkan novel Rahasia Hati karya Natsume Soseki. Salah satu tokoh dalam novel menulis pesan sebelum mengoyak nadinya sendiri. Judul tulisan ini adalah kalimat penutup dari pesan tersebut. Dari situ mungkin kamu bisa menebak, suasana macam apa yang digambarkan Rahasia Hati. Ia banyak bicara tentang kesepian, keterasingan, ketidak-berdayaan manusia di hadapan realitas-hidup–mesin besar dengan segala perangkatnya (manusia lain, kumpulan manusia yang biasa disebut masyarakat, norma dan nilai yang berlaku, doktrin moral, dan sebagainya) yang seringkali menggilas orang per orang sebagai individu.

Menilik latar ceritanya, pembaca barangkali akan maklum jika kondisi beberapa tokohnya kesepian dan terobsesi pada kematian. Walaupun tidak dinyatakan secara tersurat dan dengan alur bolak-balik yang bikin kurang jelas, bisa dikenali bahwa latar cerita membentang pada Era Meiji. Kita tahu itu zaman ketika Jepang sudah digerakkan oleh semangat modernisme dan industrialisasi, terjadi perubahan besar-besaran pada struktur politik dan sosial-ekonomi. Tapi Rahasia Hati bukan novel dengan konflik sejenis aku-melawan-masyarakat. Konflik lebih banyak terjadi di dalam kepala tokohnya sendiri-sendiri, arus deras pusaran konflik tidak muncul di permukaan. Nasib adalah kesunyian masing-masing, kata penyair Chairil. Seperti yang terjadi antara Sensei dengan sahabatnya K, kita akan lebih banyak disuguhi monolog interior si tokoh Sensei. Bagaimana ia ingin meledakkan amarah kecemburuan terhadap K sekaligus takut melukai perasaannya. Jadilah “pertengkaran” yang senyap. Sambil jalan bersisian mereka saling diam, hanya sesekali mengeluarkan kalimat tajam bernada sindiran menghina. Di bagian ini saya merasakan ada pengaruh Dostoyevsky.

Dari novel jenis begini kita bisa menyoroti ruang-ruang gelap jiwa manusia, betapa rumitnya psikis manusia, atau menyadari paradoks-paradoks pikiran dan perasaan kita sendiri. Misalnya, bagaimana Sensei merasa lega setelah membaca pesan kematian K, sebab ia menemukan isinya tidak menyinggung masalah di antara mereka dan nama baiknya tetap aman. Tanpa disadari dia memikirkan kepentingan pribadi di depan mayat kawan dekatnya.

***

Saya masih curiga ide untuk bunuh diri lebih sering melintas di kepala orang-orang modern–dalam konteks ini mari persempit maknanya: manusia kota yang menerima pendidikan formal sekolahan dan bekerja dalam kultur perkantoran/pabrikan. Mereka terlalu banyak berpikir, mempermasalahkan banyak hal, menanggung banyak beban, dan yang paling buruk: semua dilakukan sendirian–kamu bisa kaitkan dengan teori alienasi atau individualisme. Dari perbandingan kondisi tokoh Sensei sebagai perwakilan orang kota modern dan tokoh Ayahku sebagai perwakilan orang desa tradisional, Soseki seperti ingin memberi pandangan serupa.

You see, loneliness is the price we have to pay for being born in this modern age, so full of freedom, independence, and our own egoistical selves.

Sensei termasuk lulusan universitas generasi awal-awal, banyak menyendiri menghabiskan waktu membaca buku–termasuk yang berbahasa asing, dan tinggal di pinggiran kota Tokyo memisahkan diri dari keramaian. Dia seorang pemurung, bersikap dingin dan penuh curiga pada orang lain, cenderung misanthropist. Bahkan dengan istrinya, dia tidak bisa berbagi beban pikiran. Saat ditanya apakah ia percaya pada istrinya, begini ia menjawab: “Aku pun tak percaya pada diriku sendiri. Karena tak percaya pada diriku sendiri, aku hampir tak dapat percaya pada orang lain.” Kondisi demikianlah yang kemudian membuatnya sering memikirkan kematian–ditunjukkan di bagian akhir bab pertama. Di seberangnya, ada tokoh Ayahku, seorang pesakitan yang didiagnosa dokter ajalnya sudah dekat. Tapi seolah ingin melawan itu, dia menunjukkan daya hidup, keinginan untuk tetap bermanfaat bagi orang sekitarnya, sesekali masih pergi ke ladang. Di saat-saat kritis dia menerima kunjungan dari sanak-keluarga jauh, dari warga desa selingkungan rumah, dan ia ingin hidup lebih lama. “Ayahmu rupanya masih bertahan.”

Rahasia Hati (judul asli: Kokoro–“jiwa”) sepenuhnya novel tentang bunuh diri. Kalimat kenapa aku menunggu begitu lama untuk mati adalah benih, tumbuh jadi surat pendek pesan kematian, dan sisanya “hanya” konsekuensi-konsekuensi yang memang harus terus tumbuh menaati logika cerita. Misalnya, kenapa bentuknya harus disusun begitu: dua bab pertama (Sensei dan Aku serta Orangtuaku dan Aku) diisi Aku sebagai narator dan diakhiri dengan bab tiga (Sensei dan Pesannya) berupa surat super-panjang dari Sensei? Padahal kalau cuma ingin cerita tentang kesuraman hidup Sensei, bab tiga saja cukup. Kenapa harus memutar lewat Aku? Dan memang cerita baru mulai menarik setelah memasuki bab tiga. Kalau dipisahkan dari kesatuan cerita, dua bab sebelumnya biasa saja, bahkan bikin bosan.

Saya jelaskan: bab tiga tidak bisa berdiri sendiri sebab menjadi konsekuensi logis dari sifat Sensei yang tertutup, sulit mempercayai orang lain, kerumitan pikiran dan perasaannnya, ditambah rasa bersalah atas kematian K yang begitu membebaninya. Kondisinya tidak memungkinkan untuk Sensei bicara sendiri kepada pembaca. Agar bicara, harus dipertemukan dengan orang yang bisa dia percaya, maka disusunlah bab pertama–tokoh Aku yang memulai cerita tentang pertemuan pertamanya dengan Sensei, proses mereka jadi akrab, dan pengenalan sebagian karakter Sensei. Sedangkan bab dua, disusun untuk memunculkan tokoh pembanding yang memiliki karakter kontras dengan karakter Sensei–sudah saya jelaskan di paragraf keempat dan kelima tulisan ini. Sosok Ayahku jugalah yang kemudian memberi sedikit tegangan, menjadi sebab terciptanya jarak ruang antara Aku dan Sensei, memberi kesempatan pada keduanya untuk saling merenungi diri masing-masing. Akhirnya, dari tokoh Aku-lah kita sebagai pembaca bisa memperoleh salinan surat berisi curahan hati (kokoro) Sensei.

Tapi sayang, Rahasia Hati gagal menghindari resiko atas adanya perubahan suara narator dalam usaha penyampaian ceritanya. Pergantian suara dari Aku ke Sensei tidak terlalu terasa, hampir sama belaka. Mungkin saja itu kelemahan penerjemah yang kurang mendalami teks. Coba bandingkan dengan karya terjemahan lain yang berhasil membedakan banyak suara (hampir setiap bab berlainan narator): Monster Kepala Seribu, karya Laura Santullo.

***

Kita, atau saya dan mayoritas netizen masyarakat, sering sembarangan membuat spekulasi penyebab seseorang bunuh diri. Bahkan meremehkan, lalu mendiskreditkan dan sembrono mencap salah pelakunya. Ini terjadi juga dalam novel. Beberapa hari setelah kasus bunuh diri K ditangani polisi, muncul pemberitaan di surat-kabar bahwa K bunuh diri sebab ia tidak waras. Berita lain menyatakan K tertekan sebab tidak diakui keluarganya. Malahan Sensei, yang kenal baik dengannya, sempat salah paham. Dia menyederhanakan alasan kematian K menjadi sekadar urusan patah hati, tikung-menikung gebetan. Dua mahasiswa yang bersahabat baik ini memang jatuh cinta ke satu gadis: Ojosan, putri ibu kost. Karena itulah, saya juga terpeleset ke simplifikasi yang sama. Tapi setelah membaca ulang pesan pendek dari K, saya sadar sudah keliru. Bagi “golongan kami” yang mengenal konsep bersyukur, yang sedari kecil dicekoki doktrin agama dan ketuhanan, barangkali akan mengaitkannya dengan problem kesalehan dan keimanan. Tidak sesederhana itu.

Dalam pesan pendek yang ditulisnya, K menjelaskan bahwa “bunuh diri itu dilakukannya dengan sikap yang amat lumrah saja. Ia telah mengambil keputusan untuk mati, katanya, karena tak ada harapan lagi untuk menjadi orang yang teguh hati, berpendirian tetap, seperti yang diinginkannya.”

Itu mengingatkan saya pada seppuku, ritual bunuh diri yang dilakukan oleh samurai Jepang dengan cara merobek perut dan memburaikan usus untuk memulihkan nama baik setelah berbuat kesalahan fatal/gagal saat bertugas. Seppuku merupakan bagian dari nilai kehormatan bushido, kode etik keksatriaan golongan Samurai. Bushido lahir dengan dipengaruhi oleh ajaran Shinto dan Buddhisme Zen, yang memungkinkan adanya kekuatan mental hasil tempaan kebijaksanaan dan ketenangan. Tokoh K lahir dan dibesarkan di kuil Buddhis, tumbuh dengan kegandrungan fanatis pada praktek-praktek asketik. Jadi, bagi K, nyawanya memang layak ditukar dengan kehormatan sebagai ksatria yang gagal mempertahankan jiwanya bersih dari hasrat duniawi.

Sudah menjadi kepercayaan K bahwa segala sesuatu harus dikorbankan demi “jalan yang benar.” Bahkan cinta tanpa nafsu badaniah pun harus dihindari. Mengejar “jalan yang benar” tidak hanya memerlukan penahanan nafsu saja, tetapi pertarakan sepenuhnya.

Lalu Sensei. Ia menyusul K dengan alasan berbeda. Setelah sekian lama merasa terkurung dalam hidup, usaha-usahanya untuk keluar dari belenggu rasa bersalah selalu gagal, menurut dia: mati adalah kemerdekaan. Ia meyakini bahwa semua bagian dirinya telah dikuasai nasib, kecuali nyawa. Maka yang tersisa itu tak hendak juga ia serahkan pada nasib, ia masih punya kendali untuk memutuskan sendiri kematiannya. Ia ingin sekali saja merasakan lebih berkuasa di hadapan nasib.

Artinya ada faktor-faktor sangat kompleks yang memungkinkan seseorang bunuh diri: prinsip atau keyakinan hidup tertentu, sejarah panjang sosial-budaya suatu bangsa, kondisi psikologis yang bersangkutan, situasi lingkungan sekitar (keluarga, teman, masyarakat, sampai ideologi negara dan iklim ekonomi-politiknya). Jangan maknai ini sebagai anjuran agar kamu membiarkan/mengabaikan jika ada seseorang berniat bunuh diri. Novel ini justru menyadarkan saya bahwa mereka hanya butuh seseorang yang mau berusaha memahami kerumitan pikiran dan perasaannya, yang bisa dipercaya. Atau setidaknya bikin nyaman dan aman buat mereka bercerita, mengeluarkan semua unek-unek, tanpa diceramahi apalagi dihukumi pendosa tidak tahu bersyukur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: