Apa Yang Aku Bicarakan Saat Tidak Ada Yang Bisa Dibicarakan

Aku ingin bicara dengan seseorang. Tentang apa dan pada siapa, aku tidak tahu. Tiap kata yang terpikirkan seperti lepas dari realitas dalam diriku. Atau tidak terhubung dengan realitas di luar aku. Menjadi tidak relevan disampaikan pada siapapun. Dan bukankah tidak ada kata yang layak dinyatakan jika tidak mewakili realitas apapun? Bahkan kata-kata dalam cerita fiksi yang apik tetap merepresentasikan realitas tertentu.

Tapi aku ingin bicara. Bicara.

Bagian dalam kepalaku berasa dikerubuti semacam serangga. Mereka asing, liar dan menggerogoti rangka-rangka kesadaranku. Membuat hidupku seperti melayang tanpa pijakan dan arah tuju. Kejadian-kejadian menimpaku lalu-lalang tanpa makna–sebagian besar hanya rutinitas, gerak tubuh automaton. Aku tidak “mengalami” hampir tiap peristiwa yang terjadi padaku. Misalnya seseorang menyaksikan aku sedang memangku buku, mataku tertuju ke lembarannya, bibirku bergerak-gerak kecil, sambil sesekali membalik halaman. Jika menganggap aku sedang mengalami peristiwa membaca, ia keliru.

Begini yang sebenarnya terjadi: aku kaca bening, dan kata-kata adalah cahaya yang menembus lewat begitu saja. Tidak ada proses refleksi, tidak ada proses mengaitkan maksud antarkalimat-antarparagraf, tidak ada produksi makna, persetujuan atau penolakan. Hasilnya adalah rongga bolong–hasrat naluriah untuk meyakinkan diri dan orang lain bahwa aku telah membaca. Bolongan itu kemudian mendesak untuk segera ditambal: memotret buku, memamerkannya ke teman-teman di media sosial disertai kutipan pendek isi buku, membeli buku yang lain lagi dan lagi. Laku yang sama sekali tidak berhubungan dengan pengalaman membaca. Aku tidak pernah menjadi pembaca; cuma seseorang yang punya banyak buku, punya album foto buku, punya reputasi sebagai pembaca buku. Hal-hal yang tidak memberi nilai guna bagi perkembanganku sebagai subjek manusia berpribadi. Aku hanya mengalami realitas-bolong, bukan realitas-baca. Aku bukan subjek yang membaca buku, tapi objek yang digerakkan oleh buku.

Aku perkirakan serangga-serangga itu ada sejak masa kanak-kanakku.

Aku lahir dan dibesarkan di antara Bapak yang militeristik dan Ibu yang gampang cemas. Bapakku tentara, terbiasa hidup dengan disiplin ketat hierarki komando. Bantahan, penolakan, kesalahan, bahkan kreativitas dan inisiatif keluar dari garis perintah adalah hal-hal yang tidak bisa diterima. Kebiasaan di dalam barak militer ini kemudian terbawa ke rumah dan dipakai untuk mendidik anaknya. Aku jadi anak penakut; selalu menunggu instruksi, tidak berani memutuskan langkah sendiri, serba takut dan ragu melakukan sesuatu. Sebab sedikit saja kesalahan–bahkan yang tidak disengaja seperti menyenggol-tumpahkan gelas saat bermain-main–akan memancing kemarahan Bapak. Dan kemarahan beliau, menurut penilaianku sekarang, tidak terlalu menyenangkan diterima jiwa lugu anak-anak. Dua kali kemarahan beliau yang paling aku ingat: membentak sambil membanting gelas dan mengguyurkan susu “hangat” ke kepalaku. Begitulah Bapak dulu, tapi sudah tidak lagi. Sementara di sisi lain ada Ibuku; wanita yang sering terlalu mencemaskan anaknya. Untuk melindungiku dari kemarahan Bapak, biasanya Ibu akan turun tangan memperbaiki kesalahanku, mengambil alih pekerjaan yang harusnya jadi tanggung jawabku. Sampai sini, kelahiran serangga sudah bisa diidentifikasi, setidaknya tiga spesies: pemakan kesadaran-bertindak, pemakan kesadaran-bertanggungjawab dan pemakan kesadaran-manajemen-diri.

Menginjak umur tujuh tahun aku dikenalkan lingkungan baru. Orang-orang menyebutnya sekolah. Di tempat ini, ditentukan banyak perkara yang dianggap penting untuk aku terima. Seberapa bagian aku bisa menerima dari kesemuanya itu kemudian diberi skor. Tinggi-rendahnya skor tersebut akan menilai kualitasku sebagai anak manusia. Aku beri contoh praktisnya. Hari Senin pukul tujuh aku dan beberapa anak lain harus sudah duduk berjajar dalam satu ruangan; akan ada orang dewasa (Guru) yang menyampaikan sejumlah pesan/amanat, salah satunya adalah keharusan kami menjaga kebersihan, bahwa bersih itu pangkal sehat. Jeda sekian minggu, sambil diselingi menerima amanat-amanat lain, kami disuguhi sebuah kalimat tidak lengkap: Bersih itu pangkal ……

Ini ujian. Tes untuk menilai kualitas kami. Siapa bisa melengkapi kalimat tersebut sesuai dengan yang disampaikan guru sebelumnya, berarti sudah berhasil menerima salah satu pesan penting dari sekolah, berarti ia seorang anak manusia yang bermutu. Tentu saja gampang buatku lulus ujian, sebab di rumah aku punya banyak waktu luang untuk mengulang-ulang semua pesan Guru kami hingga hafal. Bandingkan dengan temanku yang di rumahnya sering dimintai tolong orangtua membereskan rumah: mencuci piring, menyapu, mengepel, memandikan adik, menguras bak mandi, dsb. Selain tidak punya waktu mengulang, karena di rumah sibuk bersih-bersih, dia juga sering telat datang ke sekolah dan melewatkan materi yang disampaikan di awal jam. Dia lupa, bahkan mungkin tidak tahu, pesan gurunya–bahwa bersih pangkal sehat. Dia gagal di ujian. Berdasarkan skor, kualitasnya sebagai anak manusia lebih rendah dibanding aku. Sialnya aku menerima dan meyakini juga “pesan penting” dari sekolah yang terakhir ini.

Sekolah adalah ekosistem subur bagi tumbuh-kembang dan pembiakan bermacam spesies serangga dalam kepalaku.

Pada tataran negara, saat seorang calon pejabat kampanye di siaran televisi bicara tentang pembelaan terhadap rakyat dan kepentingan umum, apakah kata-kata yang dia ucapkan muncul dari realitas-dirinya yang utuh? Artinya dia benar-benar berkehendak untuk membela sebab sudah paham potensi dirinya, tahu apa yang perlu dan tidak perlu dilakukan, siap menghadapi segala konsekuensi, serta tentu saja pernah mengalami realitas-membela kepentingan orang lain (setidaknya dalam kadar dan konteks yang lebih minor). Atau sebab hasrat-hasrat kebendaan efek realitas-bolong: agar punya slogan bagus yang bisa dibikin spanduk, punya massa pendukung, punya jabatan “pembela” rakyat, dan punya insentif jabatan (dengan ini, dia merasa dihargai)–tanpa pernah memfungsikan dirinya menjadi pembela. Lalu setiap orang yang manggut-manggut di hadapan televisi menyimak si calon pejabat bicara, apakah mengalami realitas-dibela? Apakah mereka sedang mengalami realitas-menyimak atau sekadar seperti aku dalam konteks membaca buku?

Tentu tidak ada orang tua yang ingin anaknya berkepribadian rapuh, tidak ada sekolah yang sengaja membuat peserta didiknya gagal menjadi manusia, tidak ada negara yang mau warganya tidak berguna bagi kehidupan bersama. Tapi aku curiga. Keluarga-sekolah-negara adalah realitas-bolong lain, dengan lingkup lebih luas. Orangtua mengasuh anaknya dengan kesadaran berlubang, guru mengajar dengan kesadaran berongga, masyarakat negara membentuk norma dan nilai sosial dengan kesadaran-kolektif yang kosong. Aku tidak sedang menyalahkan pihak lain, hanya menjabarkan kemungkinan-kemungkinan. Bagaimana seseorang bisa terdorong sangat dalam hingga tenggelam di bawah arus kesadarannya? Apa penyebabnya? Apakah dibentuk oleh keadaan (lingkungan) atau kesalahan dan kelemahannya sendiri atau ada kemungkinan dikondisikan pihak lain?

Salah satu teori dalam kajian linguistik menyatakan bahwa kata-kata merupakan kristalisasi perasaan dan pikiran, suasana batin dan dinamika akal manusia. Dari proses mengalami realitas tertentu yang kemudian diekspresikan dalam kondisi sadar. Ada sejarah panjang pengalaman manusia yang melatar-belakangi terbentuknya kata. Orang yang ingin menggunakan suatu kata dalam pembicaraan mestinya lebih dulu paham konsep makna yang diwakilinya, relevansinya dengan realitas yang dibicarakan. Tapi perkembangan kehidupan sosial-ekonomi, evolusi bentuk relasi dan interaksi antar-manusia modern, kecanggihan teknologi informasi mutakhir, memungkinkan kata-kata terlontar dari ruang hampa. Sisa-sisa kesadaranku menolak jatuh ke dalam kemungkinan ini.

Jadi, bisakah aku bicara padamu tidak dengan kata-kata? Bisakah realitas-aku dan realitas-kau bertemu di satu titik tertentu lalu berdialektika-kelindan tanpa difasilitasi kata-kata?

Barangkali aku cuma kesepian. Realitas-bolong yang menuntut diisi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: