Kesenangan dan Siksaan

“Wah, baca itu juga ya? Itu novel keren banget!”

Saya sering membayangkan ada cewek cantik dari keluarga baik-baik dan belum punya pasangan seseorang bertanya/bisa-saya-tanya seperti itu saat saya/ia sedang membaca suatu novel atau buku apapun. Barangkali lewat pertanyaan basa-basi macam begitu selanjutnya kami bisa membicarakan banyak hal terkait buku tersebut. Sepertinya menyenangkan bertemu seseorang yang memiliki ketertarikan pada bacaan yang sama. Somekind of literary brothers.

Kejadiannya saya perkirakan, yang paling mungkin, di perpustakaan. Atau bisa saja di angkot dan tempat-tempat lain yang tidak disediakan khusus sebagai ruang baca, kalau buku yang dibaca tampak sebagai buku–maksud saya, bukan smartphone atau alat bantu baca buku digital lainnya.

tumblr_o0wr4pTgbA1sk77p3o1_1280

Hasrat seperti itu menggelikan kalau mengingat alasan mula-mula saya membaca buku adalah eskapisme dari ketidakmampuan saya ngobrol dengan orang lain. Tapi barangkali memang harus begitu jalannya. Buku bukanlah objek pelarian yang buruk. Kalau kata Neil Gaiman–saat menjelaskan tentang escapist-fiction: ….. during your escape, books can also give you knowledge about the world and your predicament, give you weapons, give you armour–real things you can take back into your prison and escape for real. Selain kesenangan dan kenyamanan menyendiri, buku memberi saya hal lain yang sebaliknya: rasa ingin bicara, tidak diam. Dan manusia yang bicara selalu butuh manusia lain sebagai pendengar, sebagai korektor, sebagai dinding pembentur argumen sehingga tercipta dialektika.

Sebenarnya sederhana, setelah membaca buku saya sering diserang pertanyaan-pertanyaan, menemukan sesuatu yang menurut saya perlu juga diketahui orang lain, sesuatu yang membuatmu ingin teriak, “Dunia harusnya nggak gini!” Keraguan, kegelisahan dan kekecewaan adalah hal-hal yang terlalu menyiksa disimpan sendiri.

Tapi, daripada siksaan macam itu, ada yang lebih layak untuk dibagi-bagi: kesenangan saat membaca buku. Fiksi, berdasarkan pengalaman pribadi, adalah obat perangsang agar seseorang bisa kecanduan membaca. Yang awalnya sekadar pelarian bergeser jadi kesenangan, karena saya mulai membaca fiksi. Rangsangan untuk terus ingin tahu apa yang akan terjadi, untuk terus membuka tiap-tiap halaman, untuk terus membaca meskipun sulit dan melelahkan, sebab seseorang dalam cerita sedang dalam masalah dan saya dibuat merasa perlu tahu bagaimana semua itu akan berakhir. Proses itu pelan-pelan mendorong saya untuk belajar mengenal kata-kata baru, belajar bersabar memahami masalah, belajar berpikir dengan pemahaman baru, hingga menemu diri jadi sering asyik masyuk dengan buku–benda yang dulu di sekolah sering saya hindari. Menyadari bahwa membaca adalah aktivitas yang menyenangkan. Setelah itu, saya kira, siapapun bakal siap membaca apapun.

Dengan sajian menyenangkan dan sublim, sehingga kita tidak merasa terbebani, fiksi membuka jalan ke bidang-bidang keilmuan lain yang lebih serius dan memancing rasa ingin tahu: tentang watak dan perilaku manusia dalam bermasyarakat dari ilmu sosiologi, tentang struktur kekuasaan dan distribusi kekayaan dari ilmu politik-ekonomi, tentang peristiwa dan tokoh penting masa lalu dari ilmu sejarah, tentang konsep ruang dan waktu, gabungan rekayasa genetika dan perangkat lunak komputer, filsafat, etika dan budaya, Tuhan dan agama, macam-macam sesuai minat dan fokus perhatian.

YSO_NSD1912

Barangkali menjadi tugas saya atau kamu atau siapa saja yang sudah menemukan kesenangan membaca buku untuk kemudian menularkannya kepada yang lain–tugas yang gagal ditunaikan sekolah-sekolah kita, hingga muncul apa yang disebut Taufik Ismail sebagai Tragedi Nol Buku. Padahal cara paling sederhana membentuk anak-anak atau pada umumnya masyarakat pembelajar adalah dengan mengajarkan mereka kebiasaan membaca, menunjukkan bahwa membaca adalah aktivitas yang menyenangkan. Artinya, dengan simplikasi yang semoga tidak berlebihan, kita hanya perlu menemukan buku-buku bagus yang bakal mereka nikmati, memberi mereka akses bebas kepada buku-buku tersebut, selanjutnya biarkan mereka bersenang-senang.

Albert Einstein was asked once how we could make our children intelligent. His reply was both simple and wise. “If you want your children to be intelligent,” he said, “read them fairy tales. If you want them to be more intelligent, read them more fairy tales.”

Itulah sebabnya satu-dua tahun terakhir saya sedang berusaha membangun perpustakaan pribadi–yang isinya kebanyakan fiksi, mendistribusikan lebih dari setengah gaji saya tiap bulan untuk buku, investasi yang saya rencanakan akan bisa dinikmati anak-anak saya dan tetangga sekitar nantinya. Tapi untuk sementara saya cuma biasa pinjamkan ke keluarga dan teman-teman yang ingin–biasanya, sangat jarang, mereka terpancing ingin baca karena update-an status saya di BBM.

Words in a book sitting on my shelf are meaningless and lifeless to me until they are read again,” kata Shaheryar Malik. Ia berbagi kesenangan membaca buku dengan cara sangat gila.

Atau apapun, banyak alasan untuk berbagi.

Di paragraf terakhir ini saya ingin membuka satu rahasia, diam-diam saya menyimpan harapan–yang mungkin kurang mulia–bahwa buku-buku yang saya kumpulkan dan perpustakaan yang saya cita-citakan itu bakal jadi media dan ruang di mana saya bisa menemukan teman untuk berbagi keraguan, kegelisahan dan kekecewaan. Berbagi siksaan. Menunggu momen wah-baca-buku-itu-juga-ya?


*tulisan ini banyak mengambil potongan ceramah Neil Gaiman, selengkapnya bisa disimak di sini: Why our future depends on libraries, reading and daydreaming.

Advertisements

3 responses

  1. Melanglang buana eh nyampe juga kesini. Tulisannya bagus mex

    1. ternyata dunia maya juga sempit yaa… haha
      terimakasih sudah meluangkan waktu buat baca & komen, mas piyu~

  2. suka dan dukanya membangun minat baca, tapi aku suka pusing kalau di dalam angkutan baca buku hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: