C a n t i k

Saya pernah disidang oleh sekelompok perempuan, teman-teman saya sendiri. “Soalnya kamu mah kayak yang nggak suka cewek,” itu kata mereka. Saya di tengah, mereka duduk melingkari. Satu yang duduk tepat di depan saya menunjukkan lewat laptopnya foto seorang wanita, mungkin selebritis atau hasil nyomot sembarangan dari internet–saya tidak kenal, lalu bertanya “Cantik nggak?”

Mmm…” jeda agak lama. Saya bilang, “Nggak bisa segampang itu ngenilai cewek cantik atau nggak.”

Ah, kamu mah lieur. Tinggal bilang cantik atau nggak aja tuh!”

female facesSebelum melanjutkan, saya sarankan lebih dulu membaca ini: Apa itu Cantik? Biar enak.

***

Jika merujuk pada item-item kuesioner penelitian yang digunakan pasangan Mas AnshorMbak Laras, teman-teman saya itu termasuk yang memandang kecantikan hanya sebagai unsur fisik. Sehingga menurut mereka kecantikan seorang perempuan bisa dinilai cuma dengan melihat, seolah gampang seperti menyatakan benar atau salah kalimat 2 + 2 = 5. Kecantikan dipisahkan dari totalitas diri seorang perempuan, lepas dari ikatan dimensi lain yang lebih sulit ditangkap mata: pola pikir, kondisi psikologi, sifat kepribadian, etiket, spiritualitas, passion, atau lain semacamnya. Menjadi sederhana terumuskan dalam ukuran idealitas-yang-tampak.

Cantik bukan lagi unsur alamiah diri, tapi hasil usaha rekayasa. Seorang perempuan bisa merasa–atau dipandang–cantik setelah menyematkan tanda-tanda tertentu pada bagian tubuh tertentu. Bedak, lipstik, eyeshadow, pakaian-pakaian dan aksesoris modis, sampai operasi medis penambahan-pengurangan organ badan. Kecantikan dibentuk dari benda-benda, sehingga tubuh perempuan menjadi sepadan dengan boneka peraga (manequin) dan fungsional sebagai kendaraan iklan mode. Yang disebut sebagai kecantikan-fungsional oleh Jean Baudrillard dalam bukunya, Masyarakat Konsumsi.

Itu sedikit tentang bagaimana orang-orang dan lingkungan memaknai cantik berdasarkan pengalaman pribadi serta apa yang saya baca dari buku. Sedangkan hasil penelitian Mas Anshor-Mbak Laras menunjukkan yang sebaliknya.

arqjv6q_700b_v1 - Copy (2)***

Mungkin Mas Anshor dan Mbak Laras perlu mengoreksi bahwa penelitian mereka lebih bertujuan untuk mengetahui kecenderungan orang banyak dalam memaknai cantik, daripada merumuskan makna cantik itu sendiri. Sebab tentu saja cantik ini maknanya sangat cair. Seperti halnya cinta. Dan juga Tuhan. Persepsi seseorang terhadap hal-hal barusan tidak lepas dari berbagai pretensi yang berasal dari latar belakang ideologi dan kebudayaan, lingkungan, serta subjektivitasnya. Hasil penelitian memang bisa menunjukkan kata-kata tertentu yang sering digunakan responden untuk mengurai persepsinya mengenai cantik. Tapi belum tentu apa yang dipahami satu responden sama dengan responden lain. Misalnya, Mas Anshor memahami–berdasar pada KBBI–kata “indah” lebih terkait pada penglihatan. Sedangkan saya (sebagai responden yang termasuk menggunakan kata indah) memahaminya tidak seperti itu.

Kalau keindahan hanya menjadi tanggung jawab indera penglihatan, bagaimana menjelaskan adanya seseorang yang menilai indah suatu lukisan abstrak sementara orang lain melihatnya hanya sebagai gambar acak-acakan? Atau bagaimana Imam Ghazali menganalogikan musik sebagai jenis keindahan yang bisa didengar saat menentukan hukum halal-haram mendengarkan musik. Keindahan itu dirasakan. Manusia punya indera selain mata untuk tugas ini: qalb/sense/hati.

Makanya cantik juga menurut saya ya dirasakan. Saya pribadi baru bisa menegaskan seorang perempuan cantik atau tidak jika minimalnya sudah ngobrol–menangkap seluruh ekspresi diri (tubuh dan jiwa), mendengar suaranya, menelusuri jalan pikirannya (yang bisa juga lewat tulisan-tulisannya), mengenal pribadinya. Bukankah kita akan merasakan sensasi yang berbeda saat hanya melihat lukisan/foto panorama dalam hutan dibandingkan dengan jika kita berada di lokasinya langsung–menghirup udara segarnya, mendengar gemerisik daun-daun, merasakan angin semilir menyentuh kulit, menyerap keseluruhan suasana yang hutan tersebut sediakan.

***

arqjv6q_700b_v1 - Copy (3)Sebenarnya saya merasa kalau fokus penelitian itu juga menjadi bias. Apakah yang dimaksud kecantikan adalah daya pikat atau daya tarik (sebagaimana hasil penelitian menunjukkan “menarik” menjadi kata terbanyak kedua yang digunakan responden)? Artinya setiap perempuan punya daya pikatnya tersendiri. Entah itu yang dominan adalah salah satu atau dua dari tubuh-intelektualitas-perilaku, atau memiliki ketiganya secara berimbang. Yang terakhir ini barangkali kemudian bisa dinyatakan sebagai sosok sempurna/ideal. Sehingga dari pihak lelaki, menjadi hal wajar juga jika ada yang terpikat hanya dengan salah satu, atau menginginkan kombinasi dua unsur dan mengabaikan lainnya, atau mendambakan sosok dengan kriteria ideal tadi. Bagaimana lelaki menilai kecantikan perempuan, pada akhirnya akan seperti bagaimana mereka menilai tim sepakbola mana yang layak untuk difavoritkan. Atau seperti bagaimana kita memiliki kecenderungan merasai makanan ini enak dan yang itu tidak, sementara orang lain mengatakan sebaliknya. Tergantung selera. Siapa berselera rendah dan siapa berselera tinggi, silakan nilai sendiri.

Cirebon, 09 Oktober 2015

Advertisements

One response

  1. Fans Tulisan Amex Garis Keras | Reply

    Sebenarnya saya setuju kalau cantik memang relatif dan bergantung pada selera, seperti contoh lukisan abstrak tadi. Tidak semua orang bisa menyukai dan menganggap itu indah. Tapi rasanya agak janggal kalau dikatakan cantik juga harus dirasakan, atau kamu harus ngobrol dulu sebelum menilai seorang perempuan itu cantik. Karena kalau menurut saya masing-masing yang digambarkan sudah ada kata sifatnya dan cantik memang urusan fisik. Murni dari mata. Kalau enak diajak ngobrol atau pandai membawa diri kayaknya udah ada kata sifat lainnya, “nyambung diajak ngobrol”, “smart”, “baik hati” dan kata-kata sifat lainnya. Buat saya cantik itu sebatas menang lotre genetik yang memang beberapa orang dapatkan tanpa usaha. Tapi yang cantik ga selalu menarik. Cantik buat saya memang murni dari mata. Kalau menarik baru punya arti lebih luas….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: