Sakit

Hari ini saya sakit. Bukan pening, perih, ngilu, nyeri, atau jenis sakit lain yang biasa membuat tidak nyaman kondisi fisikmu. Bukan sedih, cemas, marah, benci, kecewa, takut atau depresi; dan tidak seperti perasaan yang muncul setelah kamu dihina temanmu atau ketika tahu kekasihmu selingkuh.

Pagi tadi saat terjaga dari tidur, terasa bagian diri saya tidak lengkap. Seperti ada yang kosong di bagian tertentu, entah sebelah mana. Hilang. Tapi jelas bukan kaki, telinga, jari-jari, gigi, udel, lobang dubur dan sebagainya yang bisa segera saya sadari jika memang telah hilang. Dan saya yakin bukan juga jantung, ginjal, lambung, atau potongan tulang tertentu; itu bagian-bagian yang terlalu vital untuk fungsi kerja biologis tubuh saya–yang jika tercabut dari tempatnya bisa saja membuat saya lumpuh atau hilang kesadaran, bahkan mati. Sedangkan ini sakit yang saya rasakan dengan sangat sadar, hanya saja rumit.

emptinessBegini, saya coba membuat analogi: bayangkan kamu dalam ruangan gelap pekat; sangat-sangat gelap hingga ketika kamu melangkah kamu tidak yakin apakah kakimu menapak pada lantai atau sedang melayang-layang; tanganmu menggapai-gapai mencari sesuatu untuk dipegang, tapi sia-sia, ujung-ujung jarimu hanya menemui kekosongan; kamu panik dan teriak, sekencangnya sekuat kamu bisa, tapi suaramu melesap ditelan sesuatu yang tidak berwujud–tidak terdengar bahkan oleh telingamu sendiri; lalu kamu sulit bernafas, tapi tidak sekarat; akhirnya hanya bisa diam, memandang kegelapan–dengan tetap sesak nafas. Ruang mengerikan seperti itulah yang terbentuk akibat semacam kehilangan tadi. Entah itu cuma titik hitam atau sebentuk lobang menganga.

Sialan. Saya jadi ragu kamu mengerti sakit macam apa yang saya rasakan. Bukan saya menganggap kamu bodoh atau apa. Hanya penjelasan-penjelasan tadi, saya rasa, jelek sekali. Itulah kenapa saya juga terkadang membenci kata-kata. Mereka seringkali gagal mewakili perasaan dan pikiran saya secara utuh. Saya belum bisa menerima kenyataan bahwa manusia hanya bisa saling memahami lewat kata-kata. Kenapa kita tidak bisa tahu maksud satu sama lain, misalkan, hanya dengan pandangan mata?

Barangkali ini jenis sakit yang harusnya saya ketahui lebih awal dari orang lain. Siapapun ia, barangkali akan menyadari ada yang tidak beres dengan saya saat kami berbincang; barangkali ia akan menemukan kesalahan saat saya menyampaikan apa-apa yang saya pikirkan dengan terbuka dan jujur; barangkali ia akan melihat kejanggalan pada saya saat mata kami bertemu, lalu dia bisa masuk lewat sana melewati lorong-lorong dan merasakan hal buruk saat sampai pada bagian dalam hati saya. Tapi sudah lama saya menutup diri dari orang lain, meragukan keberadaan mereka untuk saya. Jangan salahkan saya, bahkan sekarang saya mulai sering meragukan pikiran-pikiran saya sendiri. Lagipula kehidupan sosial saya memang sudah tidak baik sejak kecil; bedanya sekarang, bertambah buruk. Menjadi tidak tertarik pada apapun dan tidak ingin mencapai tujuan apa-apa. Saya pernah mengatakannya, bahwa ini lebih buruk dari putus asa, tapi sepertinya layak dinikmati.

aljunied_jul012008_0004Saya semakin banyak mengurung diri di kamar; membaca buku, mendengar musik, nonton film hasil download, atau cuma melamun. Bukan apa-apa, saya hanya tidak suka bepergian dan membenci keramaian; selalu merasa tidak nyaman berada dalam kerumunan atau tempat yang bising. Coba tunjukkan, sudut sebelah mana dari kota ini yang sekarang tidak bising? Kota C ini banyak berubah. Enam/tujuh tahun lalu jalanannya tidak pernah padat kendaraan, tapi lihatlah sekarang, ia jadi sering menjebak saya dalam kemacetan. Ditambah semakin banyak saja mall dan gerai makanan asing, besar-besar dan semua mewah. Seolah orang-orang di sini bekerja mengumpulkan uang hanya untuk berbelanja dan makan-makan.

Advertisements

2 responses

  1. Fans (Tulisan) Amex Garis Keras | Reply

    Aneh, saya bukan pembenci keramaian pun penikmat kesendirian seperti yang kamu coba ceritakan. Tapi saya mengerti, sangat mengerti analogi ruang gelap tadi. Entah apa memang semua orang punya ‘ruang gelap’ nya sendiri-sendiri atau memang kita yang anomali. Saya merasakan “lalu kamu sulit bernafas, tapi tidak sekarat; akhirnya hanya bisa diam, memandang kegelapan–dengan tetap sesak nafas..” itu saat ini, bagaimana bisa kamu begitu luar biasa menggambarkannya sementara saya mengerti apa yang saya rasa pun tidak. :|. Terimakasih untuk mencerahkan (??) dan membersihkan mata saya siang ini.

    1. hehe~ mungkin kita, juga mereka, sebenarnya merasakan sakit yg sama. yang membedakan kita cuma tingkat kemampuan atau ambisi untuk menyembunyikan/mengabaikannya. ada yang bisa menyembunyikan lewat praktek-praktek ibadah, lewat ritual rutin belanja barang-barang terbaru, lewat pekerjaan yang menyita waktu & pikiran, lewat hubungan asmara yang singkat-singkat dan semu, lewat pencapaian-pencapaian tangga karier, atau lewat hal-hal yang lebih sederhana semisal update foto piknik bareng keluarga di luar negeri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: