Jilbab Putih yang Tersiram Cat Warna-warni

Tulisan ini saya buat terdorong oleh serial twit-nya Mbak Banu. Tentang kemewahan jilbab. Yang termanifestasi dalam fashion para hijabers. Hal yang juga sempat menjadi keresahan saya. Awalnya Mbak Banu menanggapi berita dari @inilahdotcom soal kecintaan Mbak Dian Pelangi terhadap tas. “Wah, mbaknya suka yang fana-fana,” kata Mbak Banu dengan dilanjutkan penjelasan, “Islam itu identik dengan kesederhanaan. Sejak jaman hijabers dan ala-ala Dian Pelangi, Islam jadi terwujud lewat baju butik mahal dan mewah.”

Kemudian cuitan Mbak Banu terus mengalir, mengomentari golongan “seleb-syariah” yang mengiklankan pakaian syar’i dengan harga gamis di atas 200 ribu atau jilbab yang selembarnya dibandroli 100 ribu lebih. Belum lagi aksesoris dan make up halalnya. “Dakwah biar muslimah mau berhijab kok nampilin Islam dengan branded cloth mahal. Islam yang berpihak pada proletarnya mana?” lanjut Mbak Banu. Menurutnya, style macam itu hanya akan memperluas jurang pemisah antara kaya dan miskin.

fatin-dian-pelangiSampai ada yang menggugat. Kira-kira begini, “Itu adalah solusi bagi muslimah ekonomi atas. Agar muslimah yang emang demen tampil modis tidak harus berkiblat ke dunia mode Barat. Soal mewah atau tidak, harus dilihat dari banyak faktor: penghasilan, lingkungan, dan waktu memakainya. Tidak salah kan memakai hijab mahal? Yang penting tidak mengejek yang hijab sederhana. Mahal tidak identik dengan berlebihan. Wanita yang uang jajan perharinya satu juta, beli jilbab seminggu sekali harga 200 ribu bukanlah masalah. Harga pakaian sesuai dengan penghasilan.”

Sebenarnya terjadi dialog, saling reply, cuma saya tulis ulang dengan disatukan agar lebih enak dibaca.

Mbak Banu merespon, “Modis tidak bisa dicegah karena berkaitan dengan kepantasan. Tapi apa Islam sejati mengakomodir kemewahan? Berjilbab tetap cantik itu tidak bisa dicegah. Lha, wong sudah cantik itu dari sono-nya mau gimana lagi. Tapi, jenis pakaian dan budget adalah pilihan. Imam Ali bilang, ‘Tidak ada orang yang bisa hidup berlebihan kecuali dia merampas hak orang lain.’ Mahal itu ya berlebihan. Bukankah kita masih mengagumi orang kaya yang sederhana?”

Ironis memang, tidak dapat dipungkiri kalau semangat mendakwahkan jilbab ini datangnya dari pebisnis. Tidak baik mengadili niat seseorang, tapi setelah belajar sedikit tentang bagaimana caranya berbisnis, saya jadi sering menaruh curiga terhadap niat baik yang disampaikan oleh seorang pebisnis. Kalau dalam puisi Rendra,“Niat baikmu untuk siapa?” Seperti halnya saya meyakini bahwa ada motif-motif kapitalistis di balik senyum dan sapaan manja gadis kasir minimarket. Mereka robot, saya kira, yang sudah di-setting hanya untuk satu tujuan: menarik banyak konsumen dan menaikkan penjualan. Pelaku bisnis adalah orang-orang pragmatis, rasional, dan cost efficient. Mereka akan selalu berbicara soal margin. Bahkan alokasi dana CSR, yang katanya bentuk tanggung jawab sosial suatu perusahaan, sejauh sepengetahuan saya tidak pernah murni bermotif kemanusiaan. Selalu dihitung untung-ruginya. Maka saya sangat menyesalkan, saat seorang (yang dikenali sebagai) “ustadz” rajin mendakwahkan kewajiban menutup aurat, bahkan sampai menghinakan mereka yang tidak/belum berjilbab….. Eeeeh…,di akhir ceramah –atau kultwit– dia menawarkan jilbab dagangannya. Atau banyak juga da’i yang jadi bintang iklan komersial. Seorang tokoh agama memanfaatkan umat sebagai obyek pemasaran produk dagang, saya kira tidaklah elok.

Saya jadi teringat tentang penemuan bukti-bukti baru bahwa suksesnya penyebaran agama Islam di Nusantara bukan dilakukan oleh para saudagar (melalui perkawinan dan transaksi dagang) seperti yang dikatakan dalam buku-buku sejarah. Memang mereka yang mengawali, tapi Islam ternyata tak berkembang. Salah satu alasannya, di mata penduduk pribumi nusantara profesi berdagang tidak cukup dipandang sebagai pekerjaan yang baik. Karena itu agama Islam baru berkembang pesat dan bisa diterima penduduk nusantara ketika yang menyebarkannya para tokoh intelektual yang mempunyai wawasan budaya, suci dari hasrat keduniawian, yang tinggi tingkat spiritualitasnya, yakni kalangan Wali Songo. Lebih jelasnya baca di sini: klik!

Lho, bukannya Rasulullah Muhammad saw. juga berbisnis? Iya, pernah. Setelah Muhammad saw. diangkat menjadi rasul beliau meninggalkan kegiatan perdagangannya. Fokus dakwah. Lagipula yang pernah Muhammad saw. jalani itu berdagang, bukan berbisnis. Terserah, dibenarkan atau tidak menurut aturan baku, saya membedakan keduanya. Starbucks itu bisnis, pemiliknya memikirkan strategi-strategi canggih bagaimana memikat konsumen dan membuat dagangannya menjadi candu. Melakukan hitung-menghitung dengan rumus rumit demi mengekspansi pasar. Atau bahkan membuat muslihat-muslihat “ajaib” untuk menyingkirkan bisnis lain yang dianggap mengancam pangsa pasarnya. Warkop Mas Karyo itu usaha dagang, dijalankan dengan motif ekonomi yang jauh lebih sederhana: bertahan hidup. Ikhtiarnya cukup membuka warung. Sedikit-banyak pembeli, urusan Tuhan. Melayani dengan sepenuh hati jika ada yang datang, meskipun cuma berhutang. Tetap bisa bersenda-gurau dengan pemilik warkop sebelah.

Spirit of Capitalism di kalangan pemuka agama memang sudah ada sejak lama. Dalam sejarah Islam sendiri, kemunculan semangat kapitalisme setidaknya bisa dilacak ke belakang sampai masa kekuasaan Bani Umayyah. Saat itu, daulah Islam yang berbentuk monarki (kerajaan), mulai memikirkan perluasan wilayah kekuasan. Dakwahnya tidak lagi hanya dengan jalan damai seperti Rasul atau khulafaurrasyidin, tetapi juga perang. Bersamaan dengan itu tumbuhlah orientasi bisnis di kepala raja-rajanya. Menumpuk harta dari perdagangan ataupun rampasan perang. Bergelimang harta, membuat kalangan istana punya kebiasaan pesta dan berfoya-foya. Hal inilah yang kemudian melahirkan gerakan sufistik sebagai perlawan, gerakan yang menganjurkan untuk meninggalkan sifat-sifat kecintaan pada hal-hal duniawi. Sedangkan dalam literatur sejarah Kristen, bisa ditemukan keterangan bahwa godaan kekayaan mulai melilit kalangan gereja pada awal abad ke-13. Paus, imam, uskup, bahkan ordo-ordo religius memperhitungkan uang. Dan tumbuhlah perlawanan dari golongan Spiritual, salahsatunya ordo Fransiskan. Mereka melakukan pemberontakan dengan mengambil bentuk suatu panggilan pada kemiskinan.

Terkait hal ini, Mbak Banu nge-twit juga sejarah jilbab sebagai media perlawanan. Bagaimana ia dulu jaman SMP (tahun 2005), sekalipun di madrasah, foto ijazah dilarang memakai jilbab. Ia melawan dengan nekad tetap foto berjilbab. Serta bagaimana para perempuan Husaini pasca Karbala dipermalukan pasukan Yazid lewat jilbab yang dikoyak-koyak agar mereka tidak punya sesuatu untuk melawan. Maka, masih menurut Mbak Banu, jilbab harusnya menjadi media perlawanan para muslimah terhadap dunia fashion saat ini, bukan justru untuk mengimbangi kemewahan yang ditawarkannya. Seorang muslim/ah, saya kira, memang harus selalu tampil sederhana. Dimanapun, kapanpun, berapapun pendapatannya. Banyaknya uang yang dimiliki tidak bisa dijadikan alasan untuk bermewah-mewahan. Jangan sampai semangat kesederhanaan bernasib seperti “Jilbab Putih”-nya Nasidaria yang sekarang tidak lagi populer. Ditenggelamkan hiruk-pikuk dan warna-warni gemerlap duniawi.

Fatin-Shidqia-Lubis-X-Factor-Indonesia-470x260

Cirebon, 25 Oktober 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: