Angin dan Hujan

Hari ini cerah. Kalau berkunjung ke tempatku sekitar jam lima sore, kamu akan menemuiku sedang dalam posisi duduk di jendela kamar. Kebiasaanku yang sudah beberapa hari tidak kulakukan. Hujan adalah penyebabnya. Ia memaksaku untuk menutup jendela.

Tapi hari ini lain. Tidak ada hujan. Angin menggantikannya.

Hujan dan angin. Hmm… Kalau saja kamu ada di sini, kamu akan tahu bagaimana kedua makhluk Tuhan yang cantik ini mampu menciptakan suasana yang berbeda. Pasti kamu sering membaca kisah-kisah cengeng tentang hujan. Bagaimana dengan angin?

***

Di muka jendela kamarku tumbuh pohon kersen. Daun-daun pohon kersen inilah yang pertama kali memberiku isyarat tentang angin dan hujan. Kemarin, dari balik kaca jendela aku bisa melihat bagaimana hujan memberi kesan muram pada mereka. Lelehan air hujan membuat mereka tampak sedang menangis. Bukan tangisan biasa, suara hujan yang gemuruh menambah kesan mereka sedang mengerang-erang. Tapi hari ini lain. Tidak seperti hujan yang menghantam, angin membelai. Angin memberi mereka energi untuk bergerak-gerak halus, seperti menari. Daun-daun itu bercengkrama, bisik-bisik. Terdengar menenangkan, seperti nyanyian lirih.

angin

Duduk di jendela, dari sini aku bisa melihat anak-anak berlarian. Bisa kudengar juga tawa riang mereka. Sementara kemarin, hujan mengunci pintu rumah mereka. Hujan memaksa mereka untuk sekadar duduk bermalas-malasan di depan televisi. Tapi hari ini angin menerbangkan layang-layang mereka. Angin membebaskan mereka untuk berlari mengejar layang-layang yang terputus sampai ke manapun. Bukankah dengan angin pula burung mampu terbang? Hujan hanya akan membuat sayap mereka basah kuyu.

Hujan memang rahmat. Tapi siapakah yang paling bertanggung-jawab atas berlariannya orang-orang dari jalanan hingga harus berhenti dan terlambat tiba ke tempat tujuan? Hujan memang menambah kekuatan pada doa-doa kita. Tapi siapakah yang membuat orang-orang ragu untuk melangkah keluar dari tempat berteduh karena takut sepatu mahalnya terperosok ke dalam genangan?

***

Hujan menciptakan bayangan samar-samar punggung dia yang pergi meninggalkanmu.

Angin mengantarkan serbuk sari kepada putik untuk kemudian menjadi buah cinta yang baru.

Hujan memenjaramu dalam ruang kenangan.

Angin mendorong layar kapalmu menuju tanah harapan.

***

Tidak tiap sehabis hujan, esoknya akan ada angin.

Angin dan hujan kadang bersamaan datang.

Angin jualah yang menggiring awan mendung.

Yang jelas hari ini cerah. Berangin. Sejuk menenangkan.

Bandung, 27 Januari 2014.

Advertisements

One response

  1. Nice, bikin juga dri sudut pandang hujan yang asiknya dong…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: