Gadis di Atas Kulkas

oleh Etgar Keret

Fridge+thumb+1.jpg

Sendirian

Dia bercerita ke teman perempuannya bahwa dia pernah punya pacar yang suka menyendiri. Dan itu menyedihkan, karena mereka adalah sepasang kekasih. Secara teknis, pasangan artinya bersama. Tapi pacarnya itu malah lebih senang menghabiskan waktu sendirian. Maka, suatu ketika dia bertanya, “Kenapa? Apa ada yang salah denganku?”

Pacarnya menjawab, “Tidak, kamu tidak salah apa-apa. Ini berkaitan dengan masa kecilku.”

Dia sama sekali tidak mengerti. Sesuatu tentang masa kecil? Maka dia pun berusaha membuat analogi dengan masa kecilnya sendiri, tapi hasilnya nihil. Semakin dia memikirkan, masa kecilnya semakin tampak seperti lubang di gigi seseorang–tidak sehat, tapi bukan masalah besar, setidaknya bukan giginya yang berlubang. Dan gadis yang senang menyendiri itu, belum juga mau menemuinya. Dan itu semua gara-gara masa kecilnya! Masalah ini membuat dia kesal. Hingga akhirnya, dia sampaikan pada pacarnya, “Kamu pilih: jelaskan apa masalahmu atau kita putus!” Pacarnya bilang baiklah, dan mereka pun selesai sebagai pasangan kekasih.

Continue reading →

Advertisements

Kesenangan dan Siksaan

“Wah, baca itu juga ya? Itu novel keren banget!”

Saya sering membayangkan ada cewek cantik dari keluarga baik-baik dan belum punya pasangan seseorang bertanya/bisa-saya-tanya seperti itu saat saya/ia sedang membaca suatu novel atau buku apapun. Barangkali lewat pertanyaan basa-basi macam begitu selanjutnya kami bisa membicarakan banyak hal terkait buku tersebut. Sepertinya menyenangkan bertemu seseorang yang memiliki ketertarikan pada bacaan yang sama. Somekind of literary brothers.

Kejadiannya saya perkirakan, yang paling mungkin, di perpustakaan. Atau bisa saja di angkot dan tempat-tempat lain yang tidak disediakan khusus sebagai ruang baca, kalau buku yang dibaca tampak sebagai buku–maksud saya, bukan smartphone atau alat bantu baca buku digital lainnya.

tumblr_o0wr4pTgbA1sk77p3o1_1280

Continue reading →

C a n t i k

Saya pernah disidang oleh sekelompok perempuan, teman-teman saya sendiri. “Soalnya kamu mah kayak yang nggak suka cewek,” itu kata mereka. Saya di tengah, mereka duduk melingkari. Satu yang duduk tepat di depan saya menunjukkan lewat laptopnya foto seorang wanita, mungkin selebritis atau hasil nyomot sembarangan dari internet–saya tidak kenal, lalu bertanya “Cantik nggak?”

Mmm…” jeda agak lama. Saya bilang, “Nggak bisa segampang itu ngenilai cewek cantik atau nggak.”

Ah, kamu mah lieur. Tinggal bilang cantik atau nggak aja tuh!”

female facesSebelum melanjutkan, saya sarankan lebih dulu membaca ini: Apa itu Cantik? Biar enak.

Continue reading →

Sakit

Hari ini saya sakit. Bukan pening, perih, ngilu, nyeri, atau jenis sakit lain yang biasa membuat tidak nyaman kondisi fisikmu. Bukan sedih, cemas, marah, benci, kecewa, takut atau depresi; dan tidak seperti perasaan yang muncul setelah kamu dihina temanmu atau ketika tahu kekasihmu selingkuh.

Pagi tadi saat terjaga dari tidur, terasa bagian diri saya tidak lengkap. Seperti ada yang kosong di bagian tertentu, entah sebelah mana. Hilang. Tapi jelas bukan kaki, telinga, jari-jari, gigi, udel, lobang dubur dan sebagainya yang bisa segera saya sadari jika memang telah hilang. Dan saya yakin bukan juga jantung, ginjal, lambung, atau potongan tulang tertentu; itu bagian-bagian yang terlalu vital untuk fungsi kerja biologis tubuh saya–yang jika tercabut dari tempatnya bisa saja membuat saya lumpuh atau hilang kesadaran, bahkan mati. Sedangkan ini sakit yang saya rasakan dengan sangat sadar, hanya saja rumit.

emptiness Continue reading →

Jilbab Putih yang Tersiram Cat Warna-warni

Tulisan ini saya buat terdorong oleh serial twit-nya Mbak Banu. Tentang kemewahan jilbab. Yang termanifestasi dalam fashion para hijabers. Hal yang juga sempat menjadi keresahan saya. Awalnya Mbak Banu menanggapi berita dari @inilahdotcom soal kecintaan Mbak Dian Pelangi terhadap tas. “Wah, mbaknya suka yang fana-fana,” kata Mbak Banu dengan dilanjutkan penjelasan, “Islam itu identik dengan kesederhanaan. Sejak jaman hijabers dan ala-ala Dian Pelangi, Islam jadi terwujud lewat baju butik mahal dan mewah.”

Kemudian cuitan Mbak Banu terus mengalir, mengomentari golongan “seleb-syariah” yang mengiklankan pakaian syar’i dengan harga gamis di atas 200 ribu atau jilbab yang selembarnya dibandroli 100 ribu lebih. Belum lagi aksesoris dan make up halalnya. “Dakwah biar muslimah mau berhijab kok nampilin Islam dengan branded cloth mahal. Islam yang berpihak pada proletarnya mana?” lanjut Mbak Banu. Menurutnya, style macam itu hanya akan memperluas jurang pemisah antara kaya dan miskin.

fatin-dian-pelangi Continue reading →

Mati Sejak Dalam Pikiran

…..

Penolakanmu sudah tidak berarti apa-apa. Justru dari sana saya pahami satu hal berharga: makna ikhlas dari sebuah usaha melepaskan. Tapi ada perkara lain yang sampai sekarang menyisakan luka.

“Maaf, aku lupa.”

Kamu mengatakannya tanpa beban saat saya coba mengembalikan kenangan-kenangan kita lewat cerita. Kamu masih perlu belajar, kukira, tentang bagaimana rasanya dilupakan. Suatu hari, semoga kamu paham tanpa merasakannya lebih dulu. Saya tidak tega kalau kamu harus merasakan juga, sebab pedihnya luar biasa.

Dilupakan berarti hilang. Kamu pikir untuk apa mata pelajaran sejarah harus disampaikan di sekolah-sekolah? Salah-satunya menjaga agar mereka yang telah mati tetap ada. Saya akan lebih memilih kamu caci-maki, bahkan kamu tikam lalu mati, tapi saya bisa tetap menghantui. Daripada kamu lupakan. Hantu mendapatkan ruang eksistensinya di dunia bukan dari roh penasaran yang hebat, tapi dari ingatan yang melekat kuat pada si hidup tentang si mati.

Maka cara membunuh yang paling kejam, tetapi bebas hukum adalah dengan melupakan. Ia yang kaubunuh akan mati sejak dalam pikiran.

Satu Pihak

Lelehan air hujan di jendela, seperti sandi morse. Aku bisa membacanya. Berisi pesan rindu yang dia kirim untukku. Bukan yang pertama. Hampir selalu, setiap kali turun hujan. Kalau aku sedang tidak di dekat jendela, dia akan menggunakan cara lain. Misalnya saat aku di jalan, dia bicara rindu lewat butir hujan yang ditabrakkan ke payungku. Irama ketukan-ketukannya menciptakan bahasa tertentu. Aku bisa menerjemahkannya. Atau ketika berteduh, aku bisa memahami isyarat kerinduan yang dia ciptakan lewat helai-helai air yang tergelincir dari atap.

Continue reading →